Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

     


    Day 7 : Share your pet

    Hewan peliharaan. Sampai saya lulus SMK, saya nggak punya hewan peliharaan. Bukan karena nggak diperbolehkan oleh orang tua atau alasan lainnya, tapi karena  memang saya pikir saya nggak butuh, dan terus terang saja saya malas merawatnya. Daripada saya menelantarkan hewan peliharaan, mending saya nggak usah punya sekalian. Begitu pikir saya dahulu kala.

     

    Sampai suatu saat, kakak perempuan saya mengadopsi kucing milik sepupu, dan karena waktu itu saya belum resmi lulus, belum dapat ijazah dan belum cukup umur untuk daftar kerja, dalam kata lain: pengangguran, maka saya menghabiskan banyak waktu main dengan kucingnya. Dan karena anak kakak saya juga suka, maka kami sering bertengkar rebutan waktu mau main sama si kucing. Dan terbitlah pemikiran di benak saya: ah, saya juga mau pelihara kucing.

     

    Tapi saat itu nggak ada tetangga yang punya kucing kecil, dong. Jadilah ibu saya dengan inisiatifnya sendiri membawa kucing kecil, lusuh, kelihatan kelaparan dan nggak terurus dari rumah temannya. Usut punya usut, ternyata kucing itu pun bukan kucing milik teman ibu, tapi kucing jalanan yang datang sendiri.


    Hobinya memang tiduran, dan kayak saya; ia mageran

    Ah, sayangnya, saya nggak punya foto kucing pertama saya ketika keadaannya masih dekil. Awalnya, saya nggak suka karena dia dekil banget dan kelihatan kotor, beda dengan kucing kakak saya yang bulunya putih dan cantik. Tapi lama-lama, saya—dan keluarga saya, terutama bapak saya yang anti kucing—malah suka banget sama kucing ini.

    Tidur di kasur babunya, dong. Maafkan resolusi gambarnya yang buluk abis, karena HP saya waktu itu memang nggak fungsional untuk foto
     

    Saya kasih nama dia Leo, terinspirasi dari nama tokoh binatang di salah satu novel yang pernah saya tulis. Tapi lama-lama “L” nya sering hilang dan saya cuma panggil dia “Eo”. Oh, dia cowok, by the way. Bulunya halus dan lebat banget, terutama ekornya yang kayak kemoceng. Saya sih curiga dia mungkin persilangan kucing kampung sama angora.

     

    Dari saya yang tadinya biasa aja sama kucing, berkat Eo saya jadi cat person. Eo berhasil bikin isi timeline sosmed saya full video anabul. Eo juga yang bikin saya punya spot kelembutan khusus waktu lihat kucing, apalagi kucing jalanan yang hidupnya sering terlunta, jarang yang kasih makan. Waktu kecil, dia nurut banget mau diapakan aja. Dia menemani saya waktu saya lagi sangat frustrasi nggak kunjung dapat kerjaan, dan juga menemani saya saat saya struggle di pekerjaan pertama. Bisa dibilang, Eo adalah hewan pertama yang bikin saya sadar kalau punya peliharaan tuh menyenangkan.

     

    Sayangnya, kedekatan saya sama Eo cukup singkat. Singkat cerita, Eo pernah saya kira hilang karena dia nggak pulang bahkan setelah lebih dari tiga hari (dia nggak pernah gitu sebelumnya). Saya sampai nangis-nangis dan cari-cari dia ke mana-mana, dan tetap aja nggak ketemu. Ternyata, Eo malah dibuang oleh tetangga saya yang lain yang merasa keganggu (saya nggak tahu persisnya karena apa) dan setelah cukup lama akhirnya saya tahu, dibuangnya dekat rumah teman SD saya. 

     

    Muka galaknya waktu pertama saya lihat dia di lingkungan rumah teman saya

     

    Pernah saya ambil balik dia, tapi mungkin saking lamanya dia hilang dan nggak di rumah saya lagi, dia sudah terbiasa di tempat yang baru dan alhasil pulang lagi ke sana. Dan beruntungnya sih teman SD saya itu dan tetangganya yang lain juga suka sama Eo, jadi saya cukup tenang karena pasti Eo nggak ditelantarkan. Ya walaupun sedih juga sih, secara dia kucing pertama saya.

     

    Ini terakhir saya ketemu Eo, dia kelihatan lebih kurus dari sebelumnya :(

    Setelah nggak ada lagi Eo, saya sempat lama nggak punya kucing, dan rasanya saya masih belum bisa move on, apalagi berpikir untuk pelihara kucing baru. Sampai … seekor kucing mungil berkaki pendek datang ke rumah saya suatu malam, ngikutin teman bapak yang bertandang ke rumah.

     

    Penampakannya waktu pertama tinggal sama saya

    Dan seketika, ibu saya yang udah kepengaruh suka anabul mengusulkan untuk merawat kucing itu. Saya sih awalnya ragu-ragu karena masih belum bisa lupain Eo. Tapi akhirnya mengiyakan juga, dan sekarang, saya resmi jadi babu kucing ini. Namanya Timmy, dinamain langsung sama ibu saya, terinspirasi dari domba kecil di kartun Shaun the Sheep—saya juga kaget loh ibu saya tahu nama karakter itu.

    Transformasi Timmy

    Timmy is a meowdel

    Timmy itu cewek. Dia memang tipe kucing yang berbadan mungil, jadi walaupun dia secara usia udah dewasa pun, tubuhnya nggak jauh beda banget dari dia kecil. Sekitar dua bulan lalu, majikan anabul saya pun bertambah karena Timmy lahiran.

     

    Timmy dan ketiga anaknya






     

    Karena nggak mungkin juga saya rawat semuanya, ibu saya lagi-lagi berinisiatif untuk menawarkan anak-anak Timmy ke temannya yang mau merawat kucing. Alhasil, dua anaknya pun diadopsi orang. Tertinggalah satu di rumah saya. 

    Tommy yang sedang nemenin saya nge-blog
     

    Karena dia laki-laki, dan nama ibunya adalah Timmy, maka kakak perempuan saya dengan seenaknya memanggil anak kucing itu dengan panggilan Tommy. Berhubung saya malas cari nama-nama baru, saya ikutan saja deh.

     

    Dalam perjalanannya memiliki hewan peliharaan, itu bikin saya sadar kalau; oh, ternyata, saya capable untuk mencintai makhluk hidup lain sebesar itu. And my journey with my cats are wonderful. 

    Continue Reading

     


    Day 6 : What is your love language?

     

    Saya tahu soal love language mungkin saat masih SMK. Saya tahu ini kayak udah jadi pengetahuan umum dan basic banget, tapi ternyata banyak teman-teman saya yang “hah-heh-hoh” waktu saya tanya apa love language mereka. Jadi, saya mau membahas artinya dulu. Love Language bisa diterjemahkan ke Indonedia sebagai bahasa kasih/bahasa cinta, yang menurut saya adalah bagaimana cara kita mengekspresikan cinta dan kasih ke diri sendiri dan orang lain.

     

    Iya, saya bold kata “ke diri sendiri” karena kebanyakan pembahasan mengenai love language yang pernah saya baca mengerucut hanya pada ekspresi kasih ke orang lain, khususnya dalam relasi romantis. Padahal bahasa kasih juga membantu kita untuk lebih mencintai diri dengan mengerti apa yang kita butuhkan agar merasa dikasihi dan dicintai. Dan pada orang lain sekalipun, bahasa kasih tidak terbatas hanya untuk relasi romantis, tapi juga relasi platonis antar terman atau anak dengan orang tua.

     

    Ada lima bahasa kasih, dengan penjelasan sepengetahuan saya saja ya:

    1. Words of affirmation (kata-kata afirmasi) seperti memberi pujian, atau memberi kata “semangat” atau kata-kata sweet, dan ucapan validasi.
    2. Physical touch (sentuhan) nggak harus sex ya, tapi bisa lewat gandengan tangan, elus bahu, elus puncak kepala a la k-drama
    3. Quality time (menghabiskan waktu bersama) di mana kalian benar-benar fokus dan mendengarkan satu sama lain
    4. Receiving Gifts (memberi—dan juga menerima—hadiah)
    5. Acts of service, tipe yang menunjukan kasihnya dengan perbuatan nyata.

     

    Dan dari kali pertama baca jenis-jenis love language, tanpa mengambil tes, saya sudah tahu apa love language saya. Saat saya benar-benar test online, hasilnya hanya seperti mengkonfirmasi dugaan saya: Quality time, barulah kemudian diikuti oleh Physical touch. Perpaduan keduanya membuat saya otomatis memproklamirkan diri kalau menyenangkan saya tuh gampang pake banget.

     

    Pada orang lain dalam kaitannya dengan bahasa kasih saya, saya suka menghabiskan waktu terjadwal dengan teman dekat. Nggak perlu sering-sering, asal sama-sama dengan sadar dan mau meluangkan waktu. Ya nggak ke mana-mana, di rumah saja, kadang di rumah saya, kadang di rumahnya teman. Camilan pun seadanya, tapi bagi saya nggak penting asal bisa ngobrol dengan tenang dan nyaman. Berbagi cerita yang kami lewatkan di kehidupan satu sama lain. Benar-benar privat dan hanya teman dekat. Dulu saya rutin ngumpul dengan teman dekat tiap minggu, bergiliran di rumah kami. Benar-benar nggak keluar. Di kamar saja, tapi waktu-waktu itu bagi saya rasanya berharga.

     

    Kalaupun nggak di rumah, misal ngobrol dengan teman jauh, saya lebih suka ketemu di tempat makan biasa, malah kalau bisa yang nggak begitu terkenal dan nggak terlalu ramai. Biar kami bisa ngobrol lama dan enak. Saya nggak butuh tempat yang fancy, kekinian, atau bagus buat foto-foto dan dipajang ke Instagram dengan gaya. Yang saya butuhkan adalah isi obrolannya.

     

    Dari dulu saya selalu sebal dengan orang yang kalau ketemu malah sibuk dengan HP-nya. Makanya saya cenderung pilah-pilih kalau diajak ketemuan teman, kalau sekiranya nggak begitu dekat, saya pilih untuk menolak saja. Daripada saya dongkol sendiri tanpa bisa menegur juga. Kebalikannya, saya respect banget ke orang yang kalau ketemu sama sekali meninggalkan HP-nya kecuali untuk keadaan genting. Foto-foto ya sewajarnya saja.

     

    Bahasa kasih ini juga berlaku untuk diri saya sendiri. Iya, tidak salah. Love language tidak hanya berlaku dari kita ke orang lain dan sebaliknya—saya tegaskan lagi--tapi juga dari kita ke diri kita sendiri. Cara saya mengasihi diri adalah meluangkan waktu untuk diri saya sendiri. Me time. Di mana cuma ada saya, melakukan hal-hal yang saya suka. Tempat favorit saya adalah kamar saya sendiri, di mana saya seringnya mengultimatum untuk jangan ganggu saya dan jangan biarkan ada yang masuk begitu saja, bikin orang tua saya geleng-geleng kepala. Perpaduan introvert dan love language saya ini memang kayaknya membuat saya jadi pribadi yang butuh banyak ruang untuk sendiri; lebih dari semua orang yang pernah saya kenal.

     

    Yang kedua, physical touch. Well, yang satu ini saya awalnya nggak nyadar. Karena saya pikir, saya nggak suka kok dengan sentuhan. Saya aja bergidik jijik kalau teman cewek saya ada yang berusaha peluk atau clingy ke saya. Tapi, saat saya pikir-pikir kembali semua itu karena 1) gengsi, dan 2) saya orangnya kaku abis di real life, dan 3) antara saya nggak nyaman aja karena saya emang perlu semacam kedekatan emosional khusus sebelum saya bisa merasa nyaman dengan sentuhan.

     

    Tapi gengsi memang alasan terkuatnya. Iya, saya gengsi tau dipeluk dan balas balik peluk, sekalipun oleh ibu saya sendiri—yang mana selalu ibu lakukan setiap saya pulang ke rumah dan mau balik ke kost-an, padahal saya pulang hampir tiap minggu. Keponakan cowok saya (12 tahun) tuh anaknya clingy, suka nempel, peluk, bahkan cium-ciumin orang terdekatnya termasuk saya, dan saya tuh selalu bilang saya nggak suka, tapi ya udah gitu saya pasrah aja. Keponakan cowok saya yang lain, yang beda umurnya cuma satu tahun lebih tua saya, juga clingy sama saya. Kami dulu biasa tiduran bareng, gendong-gendongan, dan kalau kami lagi ketemu kami juga masih melakukan hal itu kayak waktu kecil.

     

    Akhirnya saya terpaksa menerima deh, memang love language saya yang kedua itu physical touch. Saya kan bisa aja bilang dengan tegas kalau saya merasa terganggu, tapi ya saya justru lebih ke pasrah dan kalau orang terdekat, saya nggak masalah. So … ya udah lah ya, nggak usah dibahas lagi. 

     

    --

     

    Katanya, kalau kita punya bahasa cinta yang beda dengan pasangan—nggak harus pasangan, sih, bisa saja antar ortu dan anak atau antar teman—kalau kita nggak tahu dan nggak bisa memahami perbedaan bahasa cinta satu sama lain itu, bisa aja ada banyak miskomunikasi dan pasangan mungkin menganggap “oh, dia udah nggak cinta ke saya”.

     

    Well, saya menyaksikan sendiri sih. Nggak sampai pada tahap ekstrim, tapi yaa … tetap aja salah tangkap. Bahasa cinta ibu saya (menurut observasi saya) itu adalah words of affirmation dan receiving gifts. Dia suka dipuji, atau kita bilang hal sederhana kaya “aku sayang ibu”. Sementara bahasa cinta bapak saya tuh act of service. Bapak saya tipe orang yang kaku dan pendiam, nggak bisa banget berkata-kata manis, tapi kepeduliannya besar. Dan itu ditunjukan dalam cara-cara yang seringkali nggak kita tahu. Jadi, ibu saya sering merasa kalau bapak tuh nggak ada peduli-pedulinya sama dia. Simply karena bahasa cinta mereka nggak terkomunikasikan dengan baik.

     

    Jangankan mereka berdua, saya sendiri dulu nggak paham dan menyalahartikan diamnya bapak sebagai bentuk ketidakpedulian, sama seperti ibu. Figur bapak di mata saya waktu kecil dulu harusnya yang penyayang dan sering ajak main anaknya, belikan mainan, atau sering bikin ketawa. Tapi dari dulu bapak nggak begitu dan saya sebagai anak kecil nggak pernah tahu apa yang dia lakukan diam-diam buat saya.

     

    Bahkan setelah saya tahu ada lima bahasa kasih dan bagaimana kelimanya itu berbeda, saya tetap belum bisa mempraktikannya, membuat ibu saya juga terkadang menyalahpahami saya. Dalam banyak hal, saya memang lebih mirip bapak, yang kaku dan pendiam. Dan saya bukan tipe orang yang akan bilang hal-hal sweet ke ibunya, memuji, atau secara harfiah bilang menyayangi ibunya. Saya paling nggak bisa, sementara bahasa kasih utama ibu saya adalah words of affirmation. Bagi saya, menghabiskan hari dengan berada dekat orang tua saya sudah cukup, rupanya bukan begitu menurut ibu saya. 

     

    --

     

    It's really long, waw! I just wanna say I am so sorry untuk inkonsistensi penggunaan “aku” dan “saya” di postingan sebelumnya. Saya lagi memilah-milih nih mana yang lebih enak aja.

    Continue Reading


    Day 5 : List 20 Random Facts About Yourself

     

    20. Waw, that’s a lot. Meski aku merasa ini agak narsistik untuk terus bicara soal diriku—yang jarang kulakukan, soalnya daripada pembicara, aku lebih dominan pendengar. I still wanna try. So here we go:

     

    1. One thing about me: I’m definitely an introvert. Your tipical introvert. Tahu kan? Introvert menurut definisi yang seringnya keliru itu; yang digambarkan sedikit bicara di depan banyak orang, cenderung pendiam, awkward, kaku, pemalu, nggak punya banyak teman, dan menghabiskan sebagian besar waktu di rumah. Terakhir kali aku tes, aku INTJ. Kalau aku ambil tes MBTI, persentase introversion dan extroversion-ku pasti jomplang banget. Persentase introversionku selalu di atas 85 %.
    2. Lebih mengandalkan logika dibanding perasaan. Jadi, terkadang, orang mengira aku nggak berperasaan. Tapi karena ini pula teman dekatku sering mengandalkanku karena aku bakal lebih objektif memandang suatu masalah.
    3. Mungkin karena poin nomor dua, aku juga jadi lebih mempercayai sesuatu yang udah terbukti secara saintifik dan skeptis banget sama apa yang baru "kata orang". Aku nggak mudah percaya mitos, seperti misalnya: nggak boleh keramas kalau sedang haid, nggak boleh juga minum es karena katanya nanti darah kita kental, dan mitos-mitos lainnya.
    4. I don’t like sugarcoating. Jadi, kalau ada yang tanya pendapatku dan aku bilang bagus artinya ya bagus, kalau enggak ya enggak, atau aku simply diam aja biar nggak melukai perasaan. Kalau aku random bilang “make up kamu bagus” tanpa kamu minta, it means I really mean it.
    5. I love dark jokes. Makanya kalau orang baru mulai dekat denganku, mereka pasti lumayan kaget karena yang keluar dari mulutku kebanyakan hal-hal suram, walaupun aku ngomongnya sambal senyam-senyum.
    6. My main love language is quality time. Followed by physical touch.
    7. Aku pecinta semua jenis drama kayaknya, asal drama itu punya cerita yang menarik, dan acting pemerannya nggak bikin sakit mata. Aku bisa nonton drama Korea, Jepang, Thailand, China, Amerika. Semuanya, bagiku nggak masalah asal ceritanya jelas, kok.
    8. I prefer subtitle over dubbing. Definitely. Aku nggak bermaksud untuk meremehkan para dubber, tapi menurutku tetap lebih enak dan lebih tersampaikan emosinya jika menggunakan suara aktornya langsung. Meskipun dengan adanya para dubber, fokus kita nggak perlu kebagi antara lihat aktingnya dan baca subtitle, tetap aja aku lebih pilih dengarin mereka ngomong bahasa ibu mereka, meskipun kalau baru pertama dengar berasa aneh di telinga. Aku masih bisa nerima kalau dubbing kartun, tapi untuk dubbing dengan pemeran real orang, nope. Jadi aku heran banget sama orang bule (re; Amerika) sana yang apa-apa tuh harus di-dubbing. Dan mereka malah nggak bisa multitask nonton sambal baca subtitle. Like, how come?
    9. I never really fall in love. Naksir, tentu pernah, tapi sampai jatuh cinta? Sampai saat ini belum pernah.
    10. And so, I never really dated anyone. Mentok hanya dekat sekilas.
    11. Dating and getting married is not on my top priority. Karena aku tinggal dengan kultur desa di mana pernikahan dini itu wajar sekali, usiaku sekarang dianggap sudah matang untuk berkeluarga dan punya anak. Beberapa temanku sudah punya anak, ada yang sudah berusia satu tahun lebih, bahkan ada yang sudah beranak dua. Dan yang lain kebanyakan sudah bertunangan. Beruntungnya, pressure dari keluargaku sendiri untuk cepat-cepat nikah nggak ada. Dan aku nggak ngurusin tekanan dari orang lain. Jadi, aku masih santai aja sampai sekarang.
    12. Aku tipe night owl—orang yang bakal lebih produktif di malam hari. Aku udah sadar sejak masih sekolah. Aku selalu produktif belajar di malam hari, terutama jam-jam saat orang di rumah udah pada tidur. Saat aku rajin nulis, aku juga bakal lancar nulis malam hari.
    13. Tipe orang yang paling susah bangun pagi. Jadi, aku selalu menyiapkan kebutuhanku—entah saat sekolah atau kerja—malam sebelumnya, biar paginya aku bisa bangun semolor mungkin dan tinggal mandi dan pergi aja. Alarmku di pagi hari bisa sampai tiga dan biasanya aku snooze terus. Oke, itu kebiasaan buruk, sih.
    14. Aku tipe perencana. Dulu, aku rajin bikin to-do list yang bakal aku lakuin seharian itu. Sekarang, karena aku keseringan lembur, dan jadwalku biasanya cuma kerja dan tidur, aku nggak lagi bikin to-do list. Dalam hal finansial, aku juga selalu bikin perkiraan budget yang aku perluin dalam sebulan. Aku juga selalu catat berapa pengeluaranku tiap hari.
    15. Kebiasaan mengelola uang sudah kulakukan sejak kecil. Kalau anak kecil diberi uang oleh kerabat lainnya, kebanyakan dari mereka akan memberikannya ke orang lain, tapi buatku, aku bakal simpan sendiri. Aku biasa nabung di celengan ayam sejak SD, dan beli sesuatu yang kumau sendiri.
    16. I enjoy being alone. Aku tipe yang baik-baik aja nggak ketemu orang seharian full, atau di rumah aja sendirian. Aku juga bukan orang yang ke mana-mana perlu teman. Aku merasa biasa aja nonton di bioskop sendirian, sementara teman-temanku pada heran. Aku nggak masalah ke tempat makan sendirian, jalan-jalan sendiri, belanja sendiri, meski aku bisa aja ajak temanku. I enjoy my own company. Dan aku rasa hal ini harusnya dinormalisasi biar kita nggak ketergantungan dengan keberadaan orang lain.
    17. I think it’s okay to not get married. Ide untuk harus punya pendamping hidup buatku itu … terlalu dipaksakan. Hanya karena ada 8 miliar orang di bumi ini bukan berarti kita akan bertemu semuanya, dan karenanya bukan berarti harus ada satu orang yang jadi pasangan kita. Kadang, orang-orang terlalu takut untuk tidak mengikuti arus mayoritas, dan malah menikah dengan siapapun, walau tidak merasa cocok.
    18. And, so it’s okay to choose not to have a child. Sampai saat ini, kalau nantinya aku menemukan orang yang tepat dan menikah; aku tidak  ingin memiliki anak. Aku punya alasanku sendiri. Aku tahu banyak orang yang mempermalukan orang-orang yang memilih childfree, banyak banget alasan mereka mencemooh, hingga bawa-bawa agama. Tapi menurutku, mempunyai keturunan harusnya bukanlah satu-satunya tujuan orang menikah.
    19. Prioritasku adalah diriku sendiri. Bukan orang tuaku, atau siapapun yang dekat denganku. Aku tahu kedengarannya ini cukup egois, tapi ide bahwa aku harus memprioritaskan orang lain di atas diriku terasa absurd. Gimana aku bisa membahagiakan dan mencukupi orang lain kalau aku tidak bisa membahagiakan diriku dan mencukupi diriku sendiri dulu?
    20. Jarak umurku dengan dua kakak perempuanku sangat jauh, 13 tahun dan 17 tahun. Dengan orang tuaku, aku sering dikira cucu mereka.

     

    It’s done, yay! Ternyata susah juga untuk bisa ngisi sampai 20 list. Tapi aku berhasil.

     

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ▼  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ▼  November (8)
        • When You Start to Lose Your “Special Privileges” A...
        • Kenapa Menulis Blog [1] 30 Days Writing Blog Chall...
        • Rekomendasi Drakor Dengan Tokoh Cowok Waras [2] 30...
        • A Long Forgotten Hobby [3] 30 Days Blog Challenge
        • 3 Things I Can’t Live Without [4] 30 Days Blog Cha...
        • 20 Random Facts Abut Me [5] 30 Days Blog Challenge
        • My Love Language Is … [6] 30 Days Writing Blog Cha...
        • Saya dan Majikan Anabul [7] 30 Days Blog Challenge
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top