Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

     


    Day 16 : What kind of person attracs you

     

    Pertanyaan hari ini menarik. Hm … what kind of person attracs me? Saya anggap dan menjawab pertanyaan ini tidak untuk relasi romatis, tapi people in general. Sebenarnya, orang yang mampu membuat kita tertarik untuk mengajak ngobrol atau kenal lebih jauh itu dalam bahasa lebih gampang dan kekinian adalah orang yang “sefrekuensi”, kan? Tapi, setiap dari kita mungkin memang punya alasan yang lebih spesifik lagi, bagi saya itu adalah:

     

    Orang yang tahu apa yang dia lakukan

     

    Saya selalu berpikir kalau orang yang tahu apa yang dia lakukan dengan hidupnya itu keren. Saya selalu iri dengan orang yang tahu apa yang mau ia lakukan dalam hidup dan mampu mendefinisikan hidup baginya sendiri, yang tahu mengapa ia memilih A dan tidak B, yang memfokuskan waktunya pada satu hal yang ia pilih sendiri dan tidak terbawa arus dan apapun yang orang katakan sebaliknya—yang hidup untuk dirinya sendiri.

     

    Sayangnya, saya  belum menemukan orang seperti ini di real life. Dan memang, nggak banyak kan orang yang tahu apa sih yang mau mereka lakukan dalam hidup bahkan di usia pertengahan dua puluhan atau tiga puluhan, atau bahkan lebih dewasa dari itu. Dan sejujur-jujurnya, saya pun salah satu dari banyak orang itu.

     

    Orang yang pintar atau passionate dalam suatu hal

     

    Pernah nggak sih lihat orang yang berapi-api menjelaskan tentang kecintaannya akan suatu hal (make up, bidang olahraga, buku, pekerjaannya, apapun itu) dan matanya kelihatan hidup banget saat itu? Orang yang passionate atas suatu hal bagi saya adalah orang yang menarik.

     

    Juga orang yang pintar dan mengerti betul akan suatu hal atau topik; katakanlah, ia kuliah hukum dan sungguh-sungguh mendalaminya. Lalu, ia pun sering membagikan perspektifnya pada kasus hukum yang sedang terjadi di Indonesia. How cool, isn’t it? Auto ingin diajak berteman, nggak, sih?

     

    Saat ini, dua hal itu yang terpikirkan oleh saya. Mungkin, bakal ditambahkan suatu saat.

     

    1.      

    Continue Reading


    Day 15 : 3 personality traits you’re proud of

     

    • Self sufficient

    [adj] needing no outside help in satisfying one's basic needs, especially with regard to the production of food; emotionally and intellectually independent; able to take care of yourself, to be happy, or to deal with problems, without help from other people.

     

    Singkat kata, “bisa ngapa-ngapain sendiri”. Tapi kata itu sendiri bagi saya rasanya terlalu cetek untuk mendefiniskan self-sufficient. Bagi saya self-sufficient berarti bisa merawat diri sendiri, secara fisik dan mental, juga dapat bahagia hanya dengan diri sendiri. Dua hal itu, kalau boleh mengklaim, telah berhasil saya lakukan selama ini.

     

    Self-sufficient dalam contoh paling sederhana adalah: tahu dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga (menyapu, cuci piring, mengepel, baik laki-laki maupun perempuan); pergi ke rumah makan sendiri atau menonton film di bioskop sendiri, tanpa merasa kesepian dan seolah orang yang menyedihkan karena nggak punya teman; mampu mengelola dan bertanggung jawab atas keuangan dan pengeluaran mereka sendiri dengan bijak (tidak berhutang untuk gaya hidup dll); jalan-jalan sendiri tanpa pacar dan tidak merasa seolah jadi orang yang mengenaskan karena melihat adanya pasangan bergandengan tangan; mampu mengelola emosi dan menyelesaikan masalah mereka tanpa perlu intervensi orang lain.

     

    Kelihatannya sepele? Basic banget, kan? Tapi percayalah, banyak orang yang saya temui (seumuran atau bahkan lebih tua) yang tidak mampu melakukan hal-hal di atas sendiri. Beberapa dari mereka, hingga usia yang legal dianggap dewasa belum mampu mengelola keuangan sendiri dan harus bergantung pada orang tua mereka. Yang lebih tua dan tak bisa lagi bergantung pada orang tua tidak jarang gali lubang-tutup lubang (khususnya untuk gaya hidup semata) karena tidak cukup memiliki pengetahuan finansial dan enggan belajar. Banyak yang merasa bahwa berpergian sendirian itu aneh dan menganggap orang lain yang melakukannya itu menyedihkan. Tidak terkecuali teman-teman saya yang terkadang keheranan mengetahui saya ke bioskop sendiri atau ke pasar malam sendiri. Lalu tidak sedikit pula yang memerlukan orang lain dalam pengambilan keputusan paling sepele mereka.

     

    Saya beruntung, dalam hal-hal yang kelihatannya sepele itu, saya bisa melakukannya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Tentu dalam beberapa hal, saya memang memerlukan bantuan orang lain. Siapa sih yang tidak? Tapi bisa jadi hanya sebagai support system, yang mendengarkan dan mendampingi kita, sementara segala halnya kita putuskan atas pertimbangan dan kematangan berpikir kita sendiri. Self-sufficient tidak berarti kita harus memutus segala bantuan atau kontak dengan orang lain, tapi adalah bagaimana kita bisa berdiri di kaki sendiri. Mampu merasa “cukup” dengan diri kita.

     

    Karena sebelum menjadi makhluk sosial, kita juga individu yang berdiri sendiri, kan?

     

    • A good listener

     

    Ya, kalau boleh menyombongkan diri, I have always been a good listener. Mungkin karena saya adalah pembicara yang buruk. Jadi, biar nggak jomplang-jomplang amat, lah. Hehe.

     

    Setelah saya tumbuh besar, saya mulai menyadari bahwa kemampuan mendengarkan dengan baik adalah sebuah skill yang harus dipelajari. Bukan hanya hal mudah yang dapat dilakukan semua orang.

     

    Barangkali karena saya terbiasa mendengarkan dan mengamati daripada berbicara, saya selalu menjadi pendengar. Selalu. Dan karenanya, saya seolah terlatih dengan posisi itu dalam berbagai situasi. Mungkin itu sebabnya juga saya sering jadi tong sampah cerita bagi orang-orang dekat.

     

    Dan lagi-lagi, saat saya tumbuh besarlah saya mulai menyadari, karena mendengarkan itu adalah skill, tidak semua orang mempelajarinya atau bahkan mau mempelajarinya dengan baik. Tidak sedikit yang memotong pembicaraan orang lain atau cerita yang mereka sampaikan padahal entah berapa banyak waktu yang mereka habiskan berdebat untuk mengatakannya atau tidak (itu mah saya!).

     

    Banyak yang mau didengar, diperhatikan ketika sedang bercerita, tapi tak mampu melakukan hal yang sama. Sayangnya, saya sering merasakannya ketika sayalah yang menjadi si pembicara. Cerita saya kerap dipotong, lalu justru diselingi oleh cerita mereka ketika saya belum selesai, gestur mereka yang seolah mendengar-dan-tidak, acuh tak acuh ketika saya bercerita, seolah ingin segera cepat-cepat mengakhiri mendengar apa pun dari saya. Namun, secepat kilat mereka menjadi kembali excited saat mereka yang berbicara. Barangkali karena itulah saya benci menjadi si pembicara.

     

    Sejujurnya itu hal paling buruk yang dapat orang lakukan, dan karena saya menghabiskan hampir seluruh hidup saya dominan menjadi si pendengar, itu dua kali lebih buruk karena saya akan tahu kalau orang di depan saya tidak tertarik atau menganggap tidak menarik cerita yang saya sampaikan.

     

    • Think with Logic

     

    Saya orang yang bakal berdebat dengan orang soal lain soal kepercayaan turun temurun dan mitos, yang bakal saya counter sama fakta saintifik. Saya lebih percaya sama hal-hal yang sudah terbukti, atau mendekati terbukti benar (dan cara yang saya tahu paling mungkin dan saya percaya adalah pendekatan saintifik). Makanya, saya sering berdebat soal kepercayaan teman-teman saya seperti tidak boleh makan es saat sedang haid karena darah bisa mengental. Tidak boleh keramas saat haid karena bisa menyebabkan kanker (saya haid selalu lebih dari seminggu dan selama itu saya diharuskan tidak keramas? Ridiculous). Atau saya bisa jadi orang keras kepala yang bakal bilang padamu kalau pembalut itu disposable jadi tidak harus dicuci meski kamu  ngeyel akan hal sebaliknya karena itu ajaran turun-temurun dari orang tua—oke, kenapa jadi bahas soal hal-hal ini?

     

    Saya juga mungkin tipe yang bakal mengolok sinis kamu kalau kamu bilang semua tontonan horror semacam Roy Kiyoshi, Jurnal Risa dan kawan-kawannya adalah nyata, bukannya settingan semata, bahwa ada sosok anak kecil yang suka merasuki tubuh si indigo (saya lupa ini kontennya siapa, tapi cukup popular). Di mata saya hal-hal seperti itu tidaklah masuk akal.

     

    Saya juga tipe orang yang bakal crosscheck omongan orang tentang satu hal atau pengetahuan baru, bahkan teman saya sendiri, karena saya tidak mudah percaya jika saya belum melihatnya sendiri.

     

    Memang trait satu ini kadang paling dibenci orang lain, dan saya nggak bakal menyangkal kalau banyak orang memang kesal dengan saya karena hal-hal di atas. Nggak jarang juga saya dibilang nggak berperasaan. But to be completely honest, this is something that has always been a part of me. This is who I am. And that’s how I function. Bagi saya trait ini yang menjadikan saya adalah saya.

     

    Dan di luar hal-hal menyebalkan itu, saya bisa jadi orang paling rasional saat kamu mintai pendapat, karena itu pula teman-teman saya sering minta pendapat saat ada masalah karena menurut mereka saya bisa jadi sangat objektif (kurang-lebih), saya nggak bakal sugarcoating apa pun. Saya nggak bakal minta mereka melakukan A karena itu mau saya dan hal yang menguntungkan buat saya. Saya bisa saja melakukan sebaliknya, mengusulkan mereka melakukan B, karena secara rasional dan mengabaikan apa yang saya rasakan, itu yang terbaik.

     

     [.]

     

    Well, that’s how it goes. Setelah menuliskan ketiganya, saya menyadari bahwa tiga jawaban ini memang selalu mendefinisikan saya dan membuat saya menjadi saya. Dan juga, melalui  tulisan ini surprisingly membuat saya semakin memahami bagaimana saya menilai diri saya sendiri.

     

     

     

    Continue Reading


    Day 14 : A difficult time in your life

     

    Selama dua puluh satu tahun saya hidup, kebanyakan beban hidup saya dimulai dan dikarenakan ekspektasi saya yang tak sesuai dengan realita. Ekspektasi saya ketinggian. Begitu juga masa depan yang selalu saya bayangkan. So, it’s fair to say that it’s me, I am my biggest problem. Seperti kata Mbak Taylor Swift dalam lagunya, “It’s me, hi, I am the problem.” Dalam kamus hidup saya, saya rasa itu benar.

     

    Saya sadar banget kalau banyak orang yang saya temui, bahkan orang-orang terdekat saya sendiri, punya masalah hidup yang jauh lebih besar dari saya. Masalah mereka berasal dari hal-hal eksternal, sementara banyak—bahkan hampir semua—masalah hidup saya berasal dari hal internal. Masalah yang berasal dari diri saya; ekspektasi, harapan, mimpi-mimpi akan suatu hal, yang tidak berhasil saya capai dalam realita. That’s what I am struggling with constantly.

     

    Mungkin sejak dulu sekali, ketika teman-teman saya menghadapi permasalahan a la remaja (yang biar kelihatan ringan, tapi a big deal untuk ukuran remaja) seperti bermusuhan atau dikhianati oleh teman dekat, punya konflik dengan senior di sekolah, putus sama pacar; semua hal itu, saya nggak mengalaminya. Most of the time, I just don’t care about that stuff. Karena saya terlalu sibuk dengan dunia kecil saya dan isi kepala saya.

     

    Jadi, kalau disuruh menjabarkan waktu paling sulit, di mana saya paling struggling, rasanya susah banget, karena semua itu berasal dari diri saya sendiri. Jika ekspektasi saya nggak terlalu tinggi, jika saya bikin goals yang masih mungkin terwujud, jika saya lebih berani, jika saya nggak terus-terusan bergelut dengan isi kepala saya, dan banyak “jika” lainnya.

     

    Jawaban yang paling mungkin saya tulis adalah; dua periode ketika saya kesulitan mencari kerja. Tanpa tabungan tersisa dan terus ditolak di sana-sini. Tapi, hampir semua orang mengalaminya, kan? Bahkan untuk sebagian orang, itu jauh dari kata waktu yang sulit di hidup mereka. Ada banyak hal yang jauh lebih bikin mereka stress, kelelahan secara fisik dan mental, dibanding sekadar “periode mencari kerja”.

     

    Mungkin ini kedengarannya kayak saya nggak memvalidasi emosi dan struggle saya--dan semakin saya pikirkan itu ada benarnya. Memang semua orang punya piringnya masing-masing. Suatu masalah besar bagi seseorang belum tentu akan jadi masalah bagi saya. Namun, dibandingkan yang lain, masalah saya ini bisa dibilang “petty problems.” Dan kalau saya boleh jujur, saya sering mendengar orang mengatakan hal yang serupa, so….

     

    Tapi, kalau saya harus menjabarkan….

     

    Dua periode waktu itu, pertama adalah ketika saya baru lulus SMK. Meskipun banyak orang bilang otak saya tuh “nyampe banget” kalau mau kuliah, secara nilai akademis saya dari kecil cukup bagus, tapi yah, saya berujung nggak bisa kuliah juga.

     

    Mungkin dulu saya terlalu naif, saking naifnya saya berpikir dengan ijazah sekolah menengah atas, saya bisa kerja enak kantoran, kayak yang sering saya bayangkan. Gaji saya minimal UMR Jakarta, lah. Dulu saya adalah Golden Child. Saya selalu juara kelas, dan sejujurnya tanpa harus mencoba begitu keras seperti yang mungkin dilakukan anak ambis lain, saya bisa terus rangking parallel selama saya SMP. Anak tetangga sering dibandingkan dengan saya dalam hal akademis. Belum lagi, saya satu-satunya dari keluarga saya yang bisa bersekolah sampai menengah atas, beasiswa pula.

     

    Pokoknya, saya adalah tipe anak yang bakal dibanggakan orang tua ke teman-temannya dan bakal disukai orang tua lain karena dianggap pintar dan bermasa depan carah. Nggak sedikit juga yang saat itu bilang bahwa saya pasti mudah cari kerja karena saya pintar. Orang tua pun—tanpa mereka bilang, tapi saya tahu--menaruh harapan lebih pada saya karena saya dapat melampaui kakak-kakak saya. Dan sejujurnya, segala hal itu bikin saya jumawa. Saya juga menaruh ekspektasi yang tinggi pada diri saya kalau memang, saya pasti bakal sukses, hidup enak dengan kerjaan yang menghasilkan.

     

    Tapi sekali lagi, saya terlalu naif dan tidak tahu apa-apa. Saya salah besar. Saya tetap saja kesulitan mendapatkan kerja. Jangankan kerja kantoran, saya gagal pada tahap interview sebagian besar pekerjaan untuk kasir atau waitress. Pada saat itu juga akses untuk mencari pekerajaan sangat terbatas untuk saya. Sebagai anak baru lulus, saya nggak berani untuk bawa motor ke “jalan besar” sendiri. Ke mana-mana, saya harus pakai bus, sementara untuk mencapai terminal, itu nggak dekat dari rumah. Belum lagi segala tetek bengek persyaratan mencari kerja yang demikian banyak, menguras kantong. Tinggal di desa yang masih “desa banget” sungguh nggak membantu, dan karena saya melampaui kedua kakak saya, jelas saya nggak bisa bertanya pada mereka soal apapun. Nggak ada yang memandu saya atau mengarahkan saya agar saya dapat pekerjaan yang sesuai.

     

    Saat itu rasanya semua berjalan salah. Saya terhitung menganggur selama setengah tahun dari saat saya menyelesaikan segala ujian dan dinyatakan lulus. Rasanya tiap hari adalah hari buruk. Saya terus-terusan mencari lowongan kerja di internet, dan tiap kali juga kebingungan soal transport dan mengurus segala kebutuhan mencari kerja. Semua itu juga butuh uang, dan jelas saya nggak bisa terus-terusan meminta pada orang tua meskipun saya tak punya tabungan. Belum lagi, tekanan dari orang-orang yang bertanya; kok, masih belum kerja, mau kerja di mana, dan bla bla bla. Oh, jangan mulai dengan tekanan dari keluarga saya sendiri. Saat itu, saya bingung banget, dan nggak merasa keluarga saya dapat menjadi support system. Sementara saya juga mendengar kabar dari beberapa teman yang sudah kuliah di univ A dengan jurusan B, yang mana adalah mimpi saya sesungguhnya.

     

    Dan hal yang paling buruk dari semua itu, adalah tekanan dari dalam diri saya sendiri, ekspektasi yang saya bebankan pada diri yang berbalik membuat saya merasa seolah saya tidak lebih dari sebuah kegagalan. Yang paling menghancurkan saya saat itu bukanlah kegagalan interview, tekanan dari banyak orang, tapi tekanan dalam diri saya sendiri. Ekspektasi. Pemikiran-pemikiran negative saya.

     

    Jadi, saya yang teramat naif itu terus diajari realita untuk menurunkan eskpektasi, dimulai dengan menurunkan standar pekerjaan. Dari impian menjadi pekerja kantoran dengan gaji minimal UMR Jakarta, saya berakhir pada pekerjaan pertama saya: penjaga toko biasa dengan gaji kurang dari sejuta dalam sebulan. Itulah seberapa jauh realita mengajari saya untuk menjadi sangat, sanagt realistis. Prosesnya tidak mudah, I struggled a lot.

     

    Dan saya bilang dua periode waktu, kan? Maka, bayangkan saja segala peristiwa tadi terjadi untuk kedua kali. Mungkin, dengan skala jauh lebih sulit.

     

    Tapi, katanya, semua hal itu ada hikmahnya. Barangkali ada benarnya, dua periode waktu itu membuat saya kini lebih santai. Sebelum pekerjaan sekarang ini, saya jauh lebih santai dalam proses mencari kerja, meski tabungan saya sudah mentok, nggak tersisa banyak, dan saya juga nggak luput dari mengalami penolakan, saya bisa tetap santai. Karena saya berpikir; ah, saya pernah mengalami yang lebih buruk dari proses saat ini, saya sempat stress banget, tapi saya toh bisa melewatinya. Sebagaimana saya menuliskannya, periode waktu, itu hanyalah sebuah periode, dan karena itu pasti hanya sementara, maka saya bakal baik-baik saja nantinya.

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ▼  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ▼  Desember (9)
        • Is It Not Okay To Be Single? [Day 8] 30 Days Blog ...
        • Perempuan Ideal [Day 9] 30 Days Blog Challenge
        • Jika Saya Punya Uang 1 Juta Dolar [Day 10] 30 Days...
        • 5 Pet Peeves I Have [Day 11] 30 Days Blog Challenge
        • Agama Warisan [Day 12] 30 Days Blog Challenge
        • Prokrastinasi [Day 13] 30 Days Blog Challenge
        • Saat-saat Sulit Dalam Hidup [Day 14] 30 Days Blog ...
        • 3 Personality Traits That ... Defines Me [Day 15] ...
        • What Kind of Person Attracs Me [Day 16] 30 Days Bl...
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top