Jika Saya Punya Uang 1 Juta Dolar [Day 10] 30 Days Blog Challenge

Desember 04, 2022

 


Day 10 : If you had 1 million USD, how would you spend it?

 

Hari ini ketika saya menulis draft, tanggal 3 Desember 2022 dan satu juta dolar (Amerika) setara dengan Rp15.376.300.000. Kita bulatkan saja jadi 15 milyar. That’s a lot. Jujur, saya nggak pernah membayangkan saya bakal punya uang segitu banyaknya. Ini malam hari dan … saya mesti berpikir keras. WKWK.

 

Kalau saya tiba-tiba dapat uang 15 milyar, pengeluaran pertama yang mungkin saya lakukan adalah membayar financial planner. Karena jelas saja, itu hal yang paling masuk akal. Seumur hidup, saya hanya pernah mengelola uang hasil kerja saya sendiri, yang tentu jumlahnya nggak jauh banget dari UMR. Jelas beda banget dong dengan mengelola kekayaan yang bisa membeli sejumlah mobil atau rumah megah di kawasan elit. Salah-salah, bisa saja uang itu habis karena cara saya mengelolanya. Seperti banyaknya kisah pemenang lotre yang kembali jadi miskin.

 

Saya, sih, membayangkan dengan membayar financial planner, mungkin sebagian uang itu bakal diinvestasikan dan dia bisa kasih tahu ke mana saja saya harus taruh uang. Di instrumen apa dan bagaimana caranya. Lalu dia bisa memandu saya menghabiskan uang tersebut dengan lebih bijak sesuai kebutuhan dan goals saya dalam hidup.

 

Tapi, nggak asyik banget, kan, kalau begitu. Pertanyaannya adalah: How would I spend it? I. Saya. Maka jika skenarionya adalah tidak boleh menggunakan jasa financial planner, dan harus saya yang mengelolanya, … Hmmm, let me ponder for a while.

 

Jika pertanyaan ini ditanyakan waktu umur saya belasan, mungkin jawabannya adalah saya akan menggunakannya untuk membeli sesuatu yang saya inginkan. Bisa saja motor atau smartphone, baju-baju, dan mungkin barang konsumtif lainnya. Dan saya bisa bayangin sebagian uang itu bakal saya tabung saja, dengan cara konvensional: simpan cash, di bank, atau dibelikan perhiasan.

 

Bedanya dengan sekarang ketika saya sedikit banyak sudah tahu cara mengelola uang, hal pertama yang mungkin bakal saya lakukan adalah menginvestasikan sejumlah uang itu. Mungkin separuhnya. Saya berasumsi kalau dana darurat saya kala menerima uang 15 milyar sudah aman. Jadi, saya bakal langsung menginvestasikannya. Karena tanpa bantuan financial planner, saya bayangin saya bakal main aman dengan pilihan instrumen investasi yang ada. Barangkali sebagian besar akan saya depositokan, sebagian lain saya masukan reksadana, mungkin pilih RDPU dan pendapatan tetap. Sebagian lain bakal saya belikan emas (bukan dalam bentuk perhiasan), dan kecil kemungkinannya saya belikan saham sih, karena saya masih awam dan saya tipe investor yang konservatif. Kalaupun saya pakai untuk menaruhnya di saham, mungkin hanya sebagian kecil, yang jika saham jatuh, saya nggak jatuh miskin lagi karena kehilangan banyak uang.

 

Hal kedua, membeli asuransi kesehatan untuk saya dan keluarga saya. Saat ini, saya memang punya asuransi kesehatan gratis dari pemerintah, yaitu KIS. Tapi kita sama-sama tahu bagaimana susahnya hal administratif di Indonesia, dan banyak juga rumah sakit yang menolak pasien BPJS gratis. Maka saya bakal membeli asuransi kesehatan sendiri, agar jika suatu saat saya sakit, saya tidak perlu mengandalkan BPJS pemerintah, dan pelayanan kesehatan yang saya dapatkan bisa maksimal.

 

Lalu katakanlah, dua hal itu menghabiskan sebagian besar uang saya, mungkin 10 milyar. Maka masih ada 5 milyar tersisa yang belum digunakan. Hal ketiga yang bakal saya lakukan adalah menghitung biaya pendidikan untuk kuliah reguler. Yap, saya bakal kuliah dong kalau saya punya banyak uang.

 

Setelah saya tahu berapa kira-kira yang akan saya butuhkan, saya akan membuka rekening bank khusus dan meletakan uang pendidikan saya di sana.

 

Setelah saya membuat pilihan ketiga, itu berarti saya harus melepas pekerjaan saya saat ini demi kuliah. Karena saya pilih reguler, bukan kelas karyawan. Enggak serta merta saya bakal jadi pengangguran, tapi tidak memiliki pekerjaan tetap saat itu dan berkuliah, maka saya bisa freelance. Mungkin mengerjakan project menulis sebagai content writer, atau melakukan sesuatu sesuai keahlian saya.

 

Maka saya butuh peralatan untuk kuliah dan bekerja freelance, dan ini akan jadi pembelian barang pertama saya: komputer, laptop, dan tetek bengeknya. Saya bayangin ini akan makan biaya lumayan, karena saya akan pilih barang-barang tersebut dengan spesifikasi yang bagus agar tahan lama.

 

Setelah semua itu, saya rasa saya tidak akan melakukan banyak pembelian lagi. Tentu mungkin saya bakal membeli beberapa barang yang saya mau, mulai beneran menghabiskan uang untuk merawat tubuh dan menunjang penampilan, atau pergi ke tempat-tempat yang saya suka. Tapi saya, sih, membayangkan sifat pelit saya akan membatasi saya dari melakukan pembelian barang yang terlalu mahal atau menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk bersenang-senang sesaat. Lifestyle saya mungkin tidak akan banyak berubah, dan barang-barang seperti mobil, motor mewah, mungkin tidak akan saya beli. Obviously karena saya nggak bisa nyetir mobil atau membutuhkan mobil.

 

Saya bayangin sejumlah uang sisanya itu justru bakal saya habiskan untuk dan bersama keluarga saya. Tentu saja. Untuk membelanjakan kesenangan orang tua dan barang-barang kebutuhan mereka. Atau juga untuk keluarga besar.

 

Dan selain hal itu, yang terpikir di otak saya adalah membeli rumah. Bukan rumah mewah, mungkin hanya rumah tipe 45 yang nyaman untuk saya tinggali sendiri. Benar, sendiri. Saya nggak berencana untuk memboyong orang tua bersama. Karena saya selalu berpikir saya butuh space untuk sendiri, dan punya rumah yang ditinggali sendiri adalah mimpi saya, meskipun saya anak terakhir. Dan di desa, masyarakat berpikir bahwa anak terakhir apalagi perempuan, diharapkan tinggal bersama orang tua mereka pada rumah warisan orang tua, untuk merawat mereka di masa tua. Tapi, dengan uang milyaran yang telah saya investasikan dan asuransi kesehatan yang saya beli, saya berasumsi kalau meski jauh pun, saya bakal tetap bisa menopang keuangan orang tua, dan tidak perlu lagi mengkhawatirkan masa tua mereka. Mereka akan baik-baik saja tanpa saya harus tinggal seatap dengan saya.

 

So, that’s how I will spend it, if I have 1 million USD on my hand!

You Might Also Like

0 komentar