3 Personality Traits That ... Defines Me [Day 15] 30 Days Blog Challenge

Desember 12, 2022


Day 15 : 3 personality traits you’re proud of

 

  • Self sufficient

[adj] needing no outside help in satisfying one's basic needs, especially with regard to the production of food; emotionally and intellectually independent; able to take care of yourself, to be happy, or to deal with problems, without help from other people.

 

Singkat kata, “bisa ngapa-ngapain sendiri”. Tapi kata itu sendiri bagi saya rasanya terlalu cetek untuk mendefiniskan self-sufficient. Bagi saya self-sufficient berarti bisa merawat diri sendiri, secara fisik dan mental, juga dapat bahagia hanya dengan diri sendiri. Dua hal itu, kalau boleh mengklaim, telah berhasil saya lakukan selama ini.

 

Self-sufficient dalam contoh paling sederhana adalah: tahu dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga (menyapu, cuci piring, mengepel, baik laki-laki maupun perempuan); pergi ke rumah makan sendiri atau menonton film di bioskop sendiri, tanpa merasa kesepian dan seolah orang yang menyedihkan karena nggak punya teman; mampu mengelola dan bertanggung jawab atas keuangan dan pengeluaran mereka sendiri dengan bijak (tidak berhutang untuk gaya hidup dll); jalan-jalan sendiri tanpa pacar dan tidak merasa seolah jadi orang yang mengenaskan karena melihat adanya pasangan bergandengan tangan; mampu mengelola emosi dan menyelesaikan masalah mereka tanpa perlu intervensi orang lain.

 

Kelihatannya sepele? Basic banget, kan? Tapi percayalah, banyak orang yang saya temui (seumuran atau bahkan lebih tua) yang tidak mampu melakukan hal-hal di atas sendiri. Beberapa dari mereka, hingga usia yang legal dianggap dewasa belum mampu mengelola keuangan sendiri dan harus bergantung pada orang tua mereka. Yang lebih tua dan tak bisa lagi bergantung pada orang tua tidak jarang gali lubang-tutup lubang (khususnya untuk gaya hidup semata) karena tidak cukup memiliki pengetahuan finansial dan enggan belajar. Banyak yang merasa bahwa berpergian sendirian itu aneh dan menganggap orang lain yang melakukannya itu menyedihkan. Tidak terkecuali teman-teman saya yang terkadang keheranan mengetahui saya ke bioskop sendiri atau ke pasar malam sendiri. Lalu tidak sedikit pula yang memerlukan orang lain dalam pengambilan keputusan paling sepele mereka.

 

Saya beruntung, dalam hal-hal yang kelihatannya sepele itu, saya bisa melakukannya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Tentu dalam beberapa hal, saya memang memerlukan bantuan orang lain. Siapa sih yang tidak? Tapi bisa jadi hanya sebagai support system, yang mendengarkan dan mendampingi kita, sementara segala halnya kita putuskan atas pertimbangan dan kematangan berpikir kita sendiri. Self-sufficient tidak berarti kita harus memutus segala bantuan atau kontak dengan orang lain, tapi adalah bagaimana kita bisa berdiri di kaki sendiri. Mampu merasa “cukup” dengan diri kita.

 

Karena sebelum menjadi makhluk sosial, kita juga individu yang berdiri sendiri, kan?

 

  • A good listener

 

Ya, kalau boleh menyombongkan diri, I have always been a good listener. Mungkin karena saya adalah pembicara yang buruk. Jadi, biar nggak jomplang-jomplang amat, lah. Hehe.

 

Setelah saya tumbuh besar, saya mulai menyadari bahwa kemampuan mendengarkan dengan baik adalah sebuah skill yang harus dipelajari. Bukan hanya hal mudah yang dapat dilakukan semua orang.

 

Barangkali karena saya terbiasa mendengarkan dan mengamati daripada berbicara, saya selalu menjadi pendengar. Selalu. Dan karenanya, saya seolah terlatih dengan posisi itu dalam berbagai situasi. Mungkin itu sebabnya juga saya sering jadi tong sampah cerita bagi orang-orang dekat.

 

Dan lagi-lagi, saat saya tumbuh besarlah saya mulai menyadari, karena mendengarkan itu adalah skill, tidak semua orang mempelajarinya atau bahkan mau mempelajarinya dengan baik. Tidak sedikit yang memotong pembicaraan orang lain atau cerita yang mereka sampaikan padahal entah berapa banyak waktu yang mereka habiskan berdebat untuk mengatakannya atau tidak (itu mah saya!).

 

Banyak yang mau didengar, diperhatikan ketika sedang bercerita, tapi tak mampu melakukan hal yang sama. Sayangnya, saya sering merasakannya ketika sayalah yang menjadi si pembicara. Cerita saya kerap dipotong, lalu justru diselingi oleh cerita mereka ketika saya belum selesai, gestur mereka yang seolah mendengar-dan-tidak, acuh tak acuh ketika saya bercerita, seolah ingin segera cepat-cepat mengakhiri mendengar apa pun dari saya. Namun, secepat kilat mereka menjadi kembali excited saat mereka yang berbicara. Barangkali karena itulah saya benci menjadi si pembicara.

 

Sejujurnya itu hal paling buruk yang dapat orang lakukan, dan karena saya menghabiskan hampir seluruh hidup saya dominan menjadi si pendengar, itu dua kali lebih buruk karena saya akan tahu kalau orang di depan saya tidak tertarik atau menganggap tidak menarik cerita yang saya sampaikan.

 

  • Think with Logic

 

Saya orang yang bakal berdebat dengan orang soal lain soal kepercayaan turun temurun dan mitos, yang bakal saya counter sama fakta saintifik. Saya lebih percaya sama hal-hal yang sudah terbukti, atau mendekati terbukti benar (dan cara yang saya tahu paling mungkin dan saya percaya adalah pendekatan saintifik). Makanya, saya sering berdebat soal kepercayaan teman-teman saya seperti tidak boleh makan es saat sedang haid karena darah bisa mengental. Tidak boleh keramas saat haid karena bisa menyebabkan kanker (saya haid selalu lebih dari seminggu dan selama itu saya diharuskan tidak keramas? Ridiculous). Atau saya bisa jadi orang keras kepala yang bakal bilang padamu kalau pembalut itu disposable jadi tidak harus dicuci meski kamu  ngeyel akan hal sebaliknya karena itu ajaran turun-temurun dari orang tua—oke, kenapa jadi bahas soal hal-hal ini?

 

Saya juga mungkin tipe yang bakal mengolok sinis kamu kalau kamu bilang semua tontonan horror semacam Roy Kiyoshi, Jurnal Risa dan kawan-kawannya adalah nyata, bukannya settingan semata, bahwa ada sosok anak kecil yang suka merasuki tubuh si indigo (saya lupa ini kontennya siapa, tapi cukup popular). Di mata saya hal-hal seperti itu tidaklah masuk akal.

 

Saya juga tipe orang yang bakal crosscheck omongan orang tentang satu hal atau pengetahuan baru, bahkan teman saya sendiri, karena saya tidak mudah percaya jika saya belum melihatnya sendiri.

 

Memang trait satu ini kadang paling dibenci orang lain, dan saya nggak bakal menyangkal kalau banyak orang memang kesal dengan saya karena hal-hal di atas. Nggak jarang juga saya dibilang nggak berperasaan. But to be completely honest, this is something that has always been a part of me. This is who I am. And that’s how I function. Bagi saya trait ini yang menjadikan saya adalah saya.

 

Dan di luar hal-hal menyebalkan itu, saya bisa jadi orang paling rasional saat kamu mintai pendapat, karena itu pula teman-teman saya sering minta pendapat saat ada masalah karena menurut mereka saya bisa jadi sangat objektif (kurang-lebih), saya nggak bakal sugarcoating apa pun. Saya nggak bakal minta mereka melakukan A karena itu mau saya dan hal yang menguntungkan buat saya. Saya bisa saja melakukan sebaliknya, mengusulkan mereka melakukan B, karena secara rasional dan mengabaikan apa yang saya rasakan, itu yang terbaik.

 

 [.]

 

Well, that’s how it goes. Setelah menuliskan ketiganya, saya menyadari bahwa tiga jawaban ini memang selalu mendefinisikan saya dan membuat saya menjadi saya. Dan juga, melalui  tulisan ini surprisingly membuat saya semakin memahami bagaimana saya menilai diri saya sendiri.

 

 

 

You Might Also Like

0 komentar