Agama Warisan [Day 12] 30 Days Blog Challenge

Desember 06, 2022

 


Day 12 : Discuss your views on religion

 

Untuk waktu yang lama, saya pernah mempertanyakan keberadaan Tuhan, kebenaran agama yang saya anut sejak lahir, agama-agama lain dan cerita keajaiban pada masing-masing agama, juga banyaknya hal yang berkaitan dengan religiusitas. Pertanyaan itu lebih jauh membuat kita mempertanyakan eksistensi kita sebagai manusia, untuk apa kita diciptakan, apa esensi keberadaan kita. Dua hal itu—spiritualitas dan religiusitas--tak terelakkan saat kita mulai mempertanyakan kebenaran suatu agama. Saya rasa pada titik tertentu, kita semua pernah mengalaminya, hanya saja topik ini terlalu tabu untuk dibicarakan. Pun bukannya sekarang saya menemukan jawaban-jawaban tersebut. Tidak. Saya masih sama bingungnya saat ini, tapi bukan itu poin yang ingin saya bahas.

 

Ketika dulu saya mempertanyakan segala hal itu, diskusi—pun jika bisa disebut sebuah diskusi—yang saya lakukan dengan orang-orang malah membuat saya tambah bingung dan tidak terarah. Kata mereka, saya memikirkan hal yang tidak penting. Buang-buang waktu dan bikin capek pikiran saja—barangkali ada benarnya, sebab sekarang ini, setelah sibuk bekerja dan menjalani “hidup orang dewasa”, pertanyaan-pertanyaan tersebut jarang singgah. Tubuh dan pikiran saya terlalu lelah setelah pulang kerja untuk diajak merenungkan hal-hal itu.

 

Kata mereka, hal seperti itu tidak seharusnya dipertanyakan, karena agama adalah soal iman, kepercayaan. Untuk yang satu ini, saya tidak yakin harus setuju.

 

Yang lain bilang, “Pikiranmu aneh, orang seusiamu nggak pusing mikirin soal itu.” Oh, saya nggak yakin. Mungkin beberapa dari mereka memang tidak, tetapi beberapa lain meskipun memikirkannya, hanya tak pernah benar-benar mengutarakannya pada orang lain. Karena percayalah, respons seperti ini yang akan mereka dapat.

 

Orang-orang terdekat saya bilang: “Makanya salat (sholat) biar kamu yakin, nggak jauh dari Tuhan.” Masalahnya adalah, sebelum meyakini sebuah agama, saya sendiri mempertanyakan keberadaan Tuhan, bagaimana bisa satu-satunya solusi adalah hal itu?

 

Orang-orang, secara tidak langsung, seolah menginginkan saya bungkam dengan respons mereka. Negara ini, yang mengaku bukan negara agama tetapi berbeda pada praktiknya, membuat segala bahasan soal agama adalah tabu. Ada pemikiran yang mengakar di masyarakat kita bahwasanya agama yang kita anut sejak lahir itu sesuatu yang sakral dan tidak boleh dipertanyakan ataupun diperdebatkan. Jika kamu terlahir dari orangtua dengan agama tertentu, maka kamu pun diharapkan hingga mati nanti menganut agama orang tuamu itu. Lebih jauh, adalah sebuah kesalahan besar apabila seseorang tidak menganut agama tertentu, hampir sama salahnya saat kamu memilih agama yang berbeda dari agama orang tuamu atas keyakinanmu sendiri. Padahal saya yakin, banyak yang hanya beragama di KTP, karena seseorang tentu tak dapat mengaku bahwa dirinya agnostik apalagi atheis.

 

Menurut saya adalah umum apabila kita mempertanyakan agama yang dengan otomatis kita anut sejak lahir; yang kolomnya telah terisi sejak bangku sekolah dasar, tergantung apakah agama orangtua kita. Kebanyakan dari orangtua kita adalah orang yang menganut agama yang sama. Apabila mereka beragama Kristen, maka sejak kamu lahir itulah identitas agamamu. Jika orangtuamu adalah seorang muslim, maka sejak lahir telah ditentukan bahwa agamamu adalah Islam. Begitu pula jika orangtuamu beragama Hindu, Budha, atau Konghuchu.

 

Agama kita adalah warisan. Meskipun saya tahu, jika saya mengatakannya dengan lantang, atau kalau tulisan ini dibaca banyak orang, saya akan dikutuk oleh banyak orang; tetapi, agama kita memang sejatinya adalah warisan, yang diwariskan oleh orangtua kita dan mayoritas orang tempat kita tumbuh.

 

Agama tidak benar-benar menjadi sesuatu  yang kamu percaya karena kamu meyakininya setelah banyaknya pertanyaan, mencari tahu, berpikir dan mencoba mengerti.

 

Padahal sebenarnya, bukankah hal yang wajar, saat kamu besar dengan segala pemahaman, pengalaman, dan pola pikir yang berbeda dari saat kecil atau bahkan sama sekali berbeda dengan orang tuamu, lalu kamu mulai mempertanyakan agama yang kamu anut dengan otomatis ketika kamu lahir? Itu bukanlah kesalahan orang tua dalam mendidik, melainkan hal yang wajar dan sangat mungkin terjadi.

 

Entah nantinya kamu akan menganut agama yang sama, berpindah agama lain, atau menemukan keyakinan dengan tidak mengikuti agama manapun meski memepercayai adanya Tuhan (agnostik), atau keyakinan lain yang lebih dapat kamu pahami. Bukankah itu lebih bagus, daripada meyakini agama yang tidak benar-benar kamu yakini? Hal itu hanya karena itulah agama orang-orang di sekitarmu, atau karena tidak ingin dipandang aneh, atau bahkan, biar mengisi kolom agama di KTP saja.

 

Kita bisa sepakat bahwa perjalanan spritualitas tiap orang tentu berbeda. Dan memeluk suatu agama tertentu menjadi salah satu bagian dari perjalanan spiritualitas yang berbeda itu. Hendaknya, mengimami agama tertentu adalah keinginan pribadi kita, kepercayaan yang kita anut setelah banyaknya pertanyaan dan perjalanan untuk “mempercayai” ketika kita tumbuh dewasa, bukannya karena itulah agama warisan orang tua kita.

You Might Also Like

0 komentar