Perempuan Ideal [Day 9] 30 Days Blog Challenge

Desember 04, 2022

 


Day 9 : What are you afraid of?

 

Mungkin sejak SMP, atau jauh lebih awal dari itu, saya sudah tahu kalau saya tidak akan hidup sebagaimana gambaran kehidupan perempuan yang ideal di mata masyarakat. Masyarakat yang patriarkis membentuk skenario kehidupan seorang perempuan (sebagaimana juga laki-laki, tapi kita sama-sama tahu bahwa segala beban dan peraturan memang lebih berat dan mengikat bagi perempuan); bahwasanya para perempuan diharapkan untuk menjadi pribadi yang lembut dan keibuan, ia akan menikah dan punya anak, mengurus rumah tangga, mendidik anak, dan melayani suami.

 

Meski zaman sudah jauh lebih modern dan banyak perempuan yang memilih berkarir, pekerjaan domestik dan mengurus anak seringkali masih dibebankan hanya kepada sosok perempuan. Mereka mengurus rumah dan anak di pagi hari, bekerja, kemudian melayani suami setelah pulang kerja. Tidak semuanya beruntung dapat menggaji ART maupun baby sitter.

 

Lain lagi di desa tempat saya tinggal. Kebanyakan perempuan diharapkan hanya menjadi ibu rumah tangga. Beberapa lelaki dengan maskulinitas rapuh melarang mereka bekerja dengan alasan bermacam rupa, padahal ekonomi pun belum sejahtera. Kalaupun bekerja, kebanyakan adalah pekerjaan rumahan yang dapat ditemui di desa-desa (netting wig atau bulu mata, membuat tas dari anyaman plastik) yang kesemuanya dapat dikerjakan dari rumah. Oh, sungguh saya bisa menulis panjang lebar tentang topik ini, tapi itu akan jadi bahasan di lain waktu.

 

Yang jelas, perempuan yang ideal di mata masyarakat dengan saya tak pernah sejalan. Pertama, saya tidak lemah lembut apalagi keibuan. Saya tidak menyukai anak kecil. Saya ingin menikah suatu saat nanti, tapi saya juga berpikir kalau tidak ada yang salah dengan hidup melajang, dan kalau memang tidak ada yang berjodoh dengan saya, saya bakal hidup melajang. Saya (sampai saat tulisan ini dibuat) tidak ingin memiliki anak. Dan dari tiga itu saja, reaksi sebagian dari keluarga saya yang mendengar membuat saya bisa tahu bahwa kehidupan yang saya inginkan, jauh dari kata hidup wanita ideal milik masyarakat. Pikiran saya ini “aneh”.

 

Menikah, punya anak, menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, rasanya memang tidak pernah terlintas jika saya disuruh membayangkan soal masa depan. Yang saya bayangkan justru; saya, menikmati hidup mungkin dengan kucing-kucing saya, mungkin di rumah yang saya bangun sendiri, dengan pekerjaan yang sudah mapan, dan stabil secara finansial.

 

Lalu … apa yang saya takutkan? Bahwa masa depan yang saya bayangkan di otak saya selama ini itu gagal saya raih dan skenario terburuknya; saya harus mengikuti citra peremuan ideal di mata masyarakat karena tidak ada pilihan lain.

 

 

 

You Might Also Like

0 komentar