Prokrastinasi [Day 13] 30 Days Blog Challenge
Desember 07, 2022
Day 13 : Worst habit you had
I can definitely answer without a second thought: procrastinate.
Kebiasaan menunda-nunda. Saya tahu bahwa ini adalah penyakit semua orang tanpa terkecuali. Apalagi di zaman dunia digital ini. Kalau sudah pegang smartphone (dan scroll timeline), mudah sekali bagi saya untuk menunda hal yang tadinya mau saya lakukan. Bisa untuk beberapa menit, satu jam, dua jam, atau bahkan berujung tidak dikerjakan sama sekali.
Sifat menunda-nunda ini levelnya sudah akut banget. Selain mageran dan pemalas—iya, ini nge-roasting diri sendiri—ada satu trait lagi yang saya sadari belakangan sebagai faktor penyebab prokrastinasi saya: perfeksionisme. Well, saya nggak se-freak itu untuk banyak hal, nggak harus yang sempurna tanpa cela, tapi untuk beberapa hal (menulis suatu novel atau menulis opini di blog) saya mau hasilnya bagus, sesuai dengan apa yang saya imajinasikan akan mampu saya tulis.
Tapi, memang seringnya sesuatu tidak akan sama seperti apa yang kita imajinasikan di otak, dan karena saya tidak mau hal tersebut hasilnya kurang, maka saya menunda mengerjakannya. Katakanlah dalam hal menulis, novel-novel saya banyak yang terbengkalai. Beberapa malah hanya jadi ide di kepala, karena di kepala saya, ide itu apabila dieksekusikan demikian bagus, tetapi ketika saya mencobanya, hal yang ada di kepala saya tak dapat saya tuliskan dengan cukup bagus. Jadi, saya berpikir bahwa, “Oh, skill saya kurang, belum sampai situ.” Dan begitulah bagaimana saya menunda mengerjakannya selama bertahun-tahun.
Ada juga novel fantasi pertama saya, yang mulai saya kerjakan dari umur 16 tahun, hingga saat ini belum kunjung mencapai kata tamat. Karena tiap kali saya membuat progress, tapi saya rasa itu tidak sesuai dengan gambaran “bagus” di kepala saya, saya berhenti sejenak, dan pada akhirnya keterusan. Pun salah satu alasan kenapa blog ini sepi, adalah karena saya terus menunda-nunda. Saya mau blog ini sempurna. Saya berkata pada diri saya, “Saya harus ganti tema dan menata blog sebelum menulis.” Atau “Saya harus belajar SEO sebelum itu.” Atau juga, “Saat ini skill menulis artikel saya masih kurang, tunggulah nanti kalau sudah lebih baik.”
Padahal, logikanya jika memang saya tidak pernah memulai, progress itu tidak akan pernah ada. Tulisan saya selamanya tidak akan pernah membaik. Tapi, ah, prokrastinasi itu masalah pelik. Sekalipun saya tahu sebabnya dan tahu cara menanggulanginya, tetap saja di banyak kesempatan saya akan terus menunda, lagi dan lagi.
Ironisnya, terkadang saya menonton banyak video soal produktivitas, bagaimana caranya menjadi produktif, tetapi tanpa sadar, dengan menonton video itu saya sendiri telah menjadi tidak produktif karena membiarkan diri saya menunda pekerjaan. Meski tak dapat ditampik, ada sebuah perasaan senang, karena saya membiarkan diri berpikir bahwa menonton berbagai vdeo itu adalah langkah pertama dalam menjadi lebih produktif. Ya, ya, memang itu hanyalah ilusi.
Challenge ini ada, pun salah satunya untuk tujuan itu; agar saya tidak terus menerus prokrastinasi. Kali ini, 30 tulisan yang ada, saya tidak benar-benar memikirkan apakah itu bagus atau tidak; apakah sesuai dengan apa yang saya imajinasikan dapat saya tulis. Saya hanya menuliskannya, tanpa benar-benar memikirkan akan seperti apa jika saya baca ulang nantinya. Saya hanya menuliskannya, kemudian, melupakannya.

0 komentar