Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya



    2021 hanya tinggal sekedipan mata. Rasanya kayak baru aja kemarin Januari, tutup mata, dan dengan ajaib kalender sudah keburu pindah ke Desember. Setidaknya, bagi saya 2021 berlalu dengan begitu cepat dan ... nggak begitu memorable.

    Saya bahkan kesulitan menuliskan apa-apa saja hal-hal penting yang terjadi di 2021, bukan saking banyaknya, tapi karena nggak ada banyak untuk dituliskan. 2021 mengalir begitu saja. Enggak ada pencapaian berarti. Enggak ada kemajuan pasti. Tapi katanya, berhasil survive di tahun ini saja sudah pencapaian. Jadi, kayaknya itulah satu pencapaian besar saya: survive dan masih tetap waras.

    Di 2021, kalau ada hal besar yang bisa dituliskan adalah:

    1. Saya ganti kerjaan.
    Dari tukang fotokopi jadi karyawan pabrikan yang enggak jelas statusnya mau dikontrak atau training terus berbulan-bulan. Iya, menjelang akhir tahun saya malah resign. Tepatnya bulan Oktober, karena suatu hal tidak mengenakkan yang terjadi di pekerjaan sebelumnya.

    Dari berganti kerja ini, lamar sana-sini, sampai menjalani pekerjaan saat ini, ada satu hal yang bisa saya pelajari. Waktu belum resign, saya percaya bahwa saya akan bahagia setelahnya. Setelah resign, saya justru was-was soal bagaimana jadinya kalau saya lama menganggur. Ketika saya sedang masa cari-cari pekerjaan, saya bilang ke diri sendiri, bahwa saya akan bahagia setelah nanti dapat kerjaan. Bahwa saya bisa bahagia, nanti, jika tujuan itu sudah tercapai. Seolah kebahagiaan itu bakal otomatis saya dapatkan.

    Hampir dua minggu saya diam, uring-uringan cari kerja, sembari menjauh sejenak dari orang-orang terdekat dan teman takut ditanyai gimana progress cari kerjaannya. Bisa libur paling enggak seminggu sekali dan gaji UMR waktu itu bagai cita-cita bagi saya. Remeh banget, kan? Ya maklum lah, kerja di toko memang nggak kenal libur dan gaji jelas di bawah UMR. Sekarang, saat saya sudah dapat kerjaan, libur dua hari dalam seminggu, ternyata, saya nggak kunjung bahagia juga. Kebahagiaan yang saya nanti ternyata enggak datang.

    Saya justru riweh dengan segala permasalahan pekerjaan ini. Dengan pekerjaan yang enggak sesuai ekspektasi, dimarah-marahi karena hasil tidak sesuai target, dengan pikiran-pikiran untuk resign atau menetap, dengan ketidaktentuan kontrak kerja. Kebahagiaan yang saya cari ternyata nggak berasa, malah digantikan segudang masalah lainnya.

    Mungkin saat itu saya baru beneran sadar, kalau kebahagiaan memang nggak bisa ditunggu. Rasa bahagia bukan sesuatu yang otomatis di dapatkan. Barangkali memang harus diciptakan. Kayaknya saya nggak perlu menahan diri untuk merasa bahagia sebelum tujuan apapun yang saya kehendaki tercapai, karena toh, saat tujuan tersebut tercapai, kadangkala saya tidak serta-merta bahagia.

    Mungkin saya bisa bahagia kapan saja. Dengan hal-hal kecil yang ada, dari celetukan receh teman atau kelakuan nyeleneh anggota keluarga.

    1. Hobi nulis saya kayaknya ada progress-nya

    Tahun ini, saya mencoba menulis di KBM, salah satu platform dengan sistem yang membayar kita kalau pembaca membuka bab yang dikunci. Karena KBM pada mulanya berasal dari komunitas baca tulis di grup facebook yang anggotanya didominasi ibu-ibu, maka, ya... dapat dimengerti memang kalau cerita populer di platform tersebut juga terbatas. Romansa soal kehidupan rumah tangga lebih digemari. Apalagi jika ada bumbu perselingkuhan, pelakor, adegan ranjang, dan deskripsi sensual asal tak menyalahi aturan. Meski enggak semuanya, tapi utamanya memang romance. Kalau enggak, variannya ya romance religi. Itu benar-benar di luar apa yang biasa saya tulis.

    Banting genre banget dari saya yang biasa nulis fantasi atau teen fiction dengan tokoh-tokoh remaja. Tapi hitung-hitung, nggak masalah untuk pengalaman.

    Saya sudah menamatkan satu cerita di sana, dan menerbitkan satu cerita lain yang sayangnya enggak ada yang baca bab berbayarnya.

    Perolehan kbm


    Itu adalah perolehan uang saya dari cerita yang saya tulis. Iya, recehan, sudah gitu ngumpulinnya tiga bulan lagi. Tapi, yah, syukuri saja. Hitung-hitung belajar. 

    Selain itu, saya ikut sebuah lomba tulis cerpen (yang kompilasi cerpen terpilihnya akan dibukukan) untuk pertama kalinya. Memang enggak menang sih, tapi untuk kali pertama, nggak buruk juga. Saya juara empat.



    Di tahun ini saya sadar, saya jadi sedikit lebih terbiasa dengan menulis. Saya yang dulu ngumpulin niatnya bisa satu-dua hari, yang berujung enggak nulis-nulis juga, sekarang sudah lumayan bisa lah, untuk menargetkan nulis seenggaknya dua sesi teknik pomodoro (25 menit dengan istirahat 5 menit) dan bisa dapat sampai seribu kata lebih seharinya. Kedengarannya kecil sekali, tapi ini pencapaian buat saya! Dulu, saya susah banget nulis, ide ada tapi susah mulainya. Mungkin memang bener peribahasa kuno itu: practices makes perfect

    Mungkin kalau ada hal penting yang benar-benar saya ingat di 2021, ya dua pencapaian itu paling enggak. 

    Dari kedua hal di atas, saya kesulitan mengingat-ingat lagi apa kiranya yang cukup memorable untuk dituliskan. 

    Tahun lalu, resolusi saya enggak tercapai (ngisi blog ini rutin paling enggak dua artikel per bulan). Dan tahun ini, saya dengan enggak tahu malunya bikin lagi, haha! Tapi resolusi tahun ini lebih kepada urusan finansial. 

    Saya kepingin, sih, serealistis mungkin bikin resolusinya biar tercapai gitu. Tapi gimana ya, kadang tuh suka saja berandai-andai, ngehaluin yang sulit tercapainya.

    Tahun ini, saya punya tiga resolusi :
    1. Dana darurat terkumpul (ini realistis sih, mengingat pengeluaran saya juga enggak sebanyak itu, jadi enam kali pengeluaran bulanan karena saya jomblo single, sampai Desember tahun berikutnya, mungkin saat saya review tahun 2022, yang ini sudah tercapai. Semoga. Dan mudah-mudahan saja saya punya cukup dana untuk ditabung setelah dana darurat terpenuhi.)
    2. Beli laptop. Nah yang ini, saya enggak tahu pasti. Meskipun saya butuh dan udah lama ingin. Memang laptop enggak semahal itu untuk sebagian orang, tapi kalau gajimu terus-terusan di bawah UMR untuk jangka waktu lama, ya susah bok, ngumpulin uangnya.
    3.  Bangun dua atau lebih income. Tahun ini mungkin tahun yang buka mata saya, kalau kita memang seharusnya nggak hanya punya satu macam income (sumber pemasukan) saja. Seenggaknya harus punya minimal dua, untuk menambah keran pemasukan dan jaga-jaga kalau tiba-tiba ada masalah dengan pekerjaan utama, di-PHK, atau kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya. Dan selama ini (sampai saya ganti pekerjaan sekalipun) satu income yang saya punya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan saja. Keinginan pun seringkali ditahan demi bisa menyisakan cukup uang untuk bisa ditabung. Jadi, tanpa sumber pemasukan lain memang susah untuk menabung, apalagi untuk berinvestasi. Karena saya bisanya cuma nulis, saya kepingin bangun income dari pekerjaan sebagai freelance writer. Sedang saya usahakan, tercapai enggaknya, itu yang bikin saya ketar-ketir. Rasanya, kadang kepercayaan diri saya melambung tinggi, semacam: wah, kayaknya emang saya lumayan ada bakat, nih, di nulis! Namun kadang, ada saat-saat di mana saya sama sekali nggak percaya diri, insecure, dan sebagainya selama saya berusaha jadi penulis nggak kunjung menghasilkan. Hari-hari terakhir ini, saya lagi berjuang dengan pemikiran-pemikiran dan insekuritas itu.

    Kira-kira, itulah resolusi saya. Enggak banyak-banyak, tapi akan saya usahakan. Dan hm... kayaknya saya harus lebih sering isi blog ini, tapi saya takut bikin resolusi soal blog ini lagi. Dan harusnya saya punya tulisan untuk setiap tahun baru. Agar bisa dibandingkan kemajuannya dengan tahun sebelumnya.

    Barangkali di penghujung 2022, saya akan menulis lagi soal bagaimana satu tahun lagi telah berlalu dan apakah semua resolusi saya tercapai. 2021 memang bukanlah tahun saya, tapi bukan berarti setahun ini nggak berarti. Jadi, selamat tinggal 2021.


    Continue Reading

    Cover Novel
    Judul: Love, Curse & Hocus-Pocus
    Genre: Romance, Metropop, Fantasi
    Penulis: Karla M. Nashar
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Blurb:

    And what would you do, if I told you I have no intention to kiss you?”

    “Kurasa... aku akan membuatmu mengubah keputusanmu itu.”

    Ketika Troy Mardian dan Gadis Parasayu yang saling membenci harus terbangun dalam keadaan bugil dengan memori kabur akan pernikahan mereka, reaksi pertama mereka adalah berteriak histeris. Mereka curiga jika semua keanehan itu berkaitan dengan wanita gipsi tua yang mereka tertawai pada acara ulang tahun kantor mereka.

    Untunglah mimpi dan realita yang tumpang tindih mempermainkan akal sehat mereka itu segera berakhir, dan membawa mereka kembali ke dunia nyata. Kali ini Troy dan Gadis yakin semua keanehan yang mereka alami itu telah berakhir. Setidaknya demikian, hingga tugas kantor membawa mereka ke negara para Duke dan Duchess, Inggris.

    Dalam penerbangan yang melewati turbulensi ekstrem dan nyaris merenggut nyawa, keduanya dipaksa berpikir ulang tentang perasaan masing-masing.

    Meskipun mereka saling membenci sejak pandangan pertama, mungkinkah berbagai peristiwa aneh tersebut justru mengubah rasa tidak suka mereka menjadi cinta?

    Dan ketika Troy dan Gadis mengira hidup mereka sudah mencapai puncak kebahagiaan tertinggi, nun jauh di sana, sayup-sayup suara gemerencing lonceng perak kecil milik si gipsi misterius kembali membelah pekatnya malam...

    Lalu apa kira-kira yang akan terjadi pada Troy dan Gadis kali ini?

    Cring... cring... cring... Beware!

    Continue Reading


    Judul : Cantik Itu Luka
    Penulis : Eka Kurniawan
    Penerbit : Gramedia pustaka Utama
    Blurb :

    Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberinya nama si Cantik.

    Continue Reading

    Review Doom At Your Service

    poster doom at your service
    Continue Reading


    Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri acara pernikahan teman. Saya pergi dengan sepupu saya sehabis kerja. Dalam acara tersebut, saya berakhir satu meja dengan salah satu orang yang pernah membuat kepercayaan diri saya terjun ke titik paling dasar di masa sekolah.

    Komentarnya soal fisik saya pernah membuat saya insecure parah. Menangis selama satu jam lebih. Dan lebih dari apapun, membenci wajah saya di kaca sekaligus berharap ada keajaiban bahwa saya dapat mengubah salah satu fitur wajah saya. Wanna know the worst part? I once had a crush on him.

    Ia adalah salah satu orang yang membuat saya hingga detik ini enggan memasang wajah saya sebagi foto profil sosia medial saya, baik platform yang terbuka seperti Facebook hingga WhatsApp. Alasan yang sama mengapa saya enggan berfoto dengan grup teman saya. Separah itulah ketidakpercayaan diri saya.

    Normalnya, jika saya entah bagaimana berpapasan dengannya di jalan, saya akan memilih pura-pura tidak melihat dan tidak mengenalnya. Atau yah, memasang wajah tidak bersahabat. Tetapi saya tidak bisa melakukannya kali ini, kan?

    Kami duduk berlima, enam dengan calon pengantin. Awalnya saya hanya bicara dengan kedua teman saya yang juga mengenalnya, berpura-pura seolah dia tidak ada dan bersikap dingin. Dia duduk dan bicara dengan satu teman lelakinya, yang juga teman sekolah saya. Aneh rasanya kami berada dalam satu meja yang sama, pernah satu sekolah dan bermain bersama, tapi canggung satu sama lain.

    Saya kemudian bertanya dan mengajak teman lelakinya bicara tapi tidak dengannya. Beberapa kali, saya tahu bahwa dia berusaha memasukkan saya dalam obrolan juga. Dia  juga berusaha melucu.

    Sampai saya menyadari, ia tidak ingat perkataanya terhadap saya. Bullying verbal yang dilakukan selama sekolah itu, yang dikatakannya saat bercanda itu, ia tidak tahu dampaknya pada saya. Barangkali, ia bahkan tidak ingat pernah mengatakannya.

    Itu sangat tidak adil, kan? Saya menderita dan masih berjuang hingga saat ini soal kepercayaan diri saya karena sebuah perkataan yang bahkan tidak lagi diingat olehnya. Untuk sekedar menatapnya, semua perkataannya muncul kembali dan saya merasa tidak berguna. Dia duduk di sana bercanda dengan kasual memainkan peran teman lama, tertawa di depan saya. Ia juga merasa biasa saja, merasa barangkali kami hanya teman masa sekolah dan dengan mudah berusaha membangun komunikasi.

    Tetapi di satu sisi, saya jadi bertanya-tanya. Apa yang sudah saya lakukan selama ini? Membenci seseorang yang bahkan tidak ingat apa-apa soal perkataannya? Menginvestasikan waktu dan energi saya mendendam kepada seseorang yang tidak ingat perbuatannya?

    Perasaan saya campur aduk. Saya terus merasa tidak adil dan dalam waktu bersamaan mulai memahami dan berdamai.

    Kami masih kecil saat itu, dan baginya, itu adalah sebuah candaan. Saya tidak membenarkan perbuatannya dahulu, tetapi saya jadi mulai memikirkan sesuatu, saya juga barangkali pernah melakukan hal yang sama. Di masa kecil, saya pernah mengolok seorang anak "banci" karena gayanya yang feminin untuk seorang anak laki-laki. Saya tidak ingat lagi kenapa saya melakukannya atau apa alasan yang mendasarinya.

    Baginya, mungkin, perkataan saya menyakitkan. Perkataan saya mungkin diingat terus olehnya. Baginya, saya mungkin adalah "orang jahat"nya. Karena ucapan yang saya katakan begitu saja.

    Malam itu, hampir di penghujung waktu saya hendak pulang. Obrolan di meja kecil kami mulai mencair. Saya memasukkannya dalam percakapan. Malam itu, saya memutuskan bahwa jika saya bertemu lagi dengannya, paling tidak saya tidak akan bertingkah seolah saya tidak melihatnya, saya barangkali akan menyapa.

    Apakah saya memaafkannya? Memaafkan rasanya bukan kata yang tepat, karena hanya sayalah yang merasa terluka dan merasa tindakannya salah. Saya mencoba berdamai. Dengan diri saya sendiri. Dengan salah satu akar dari insekuritas saya.

    Saya tidak tahu bagaimana tepatnya terlahir keputusan ini. Barangkali bahwa saya merasa mendendam akan menyia-nyiakan energi saya.

    Barangkali juga karena saya sadar bahwa dia telah berubah, begitu juga saya. Dia menjadi sopan, jauh lebih sopan dari kali terkahir saya pernah bertemu. Atau barangkali karena saya merasa bahwa saya pernah membuat kesalahan yang sama.

    Mungkin juga karena waktu telah lama berlalu. Waktu mungkin mendewasakan saya. Waktu menyembuhkan.

    Waktu juga membuat saya perlahan memperoleh kepercayaan diri. Saya masih dan terus belajar mencintai diri saya, fisik saya, kelebihan dan kekurangan saya.

     

     

     

     

     

    Continue Reading

    Semua orang pasti punya trait yang dirinya sadar itu buruk, tapi cenderung kesulitan untuk mengatasinya. Bagi saya trait itu adalah kecenderungan untuk show off atau pamer.

    Saya nggak punya banyak harta maupun kesempurnaan dan kecantikan fisik untuk dipamerkan, tapi saya cenderung ingin memamerkan satu hal: intelegensi. Sesuatu yang tanpa sadar saya lakukan untuk mendapat validasi atas “kemampuan” diri saya. Saya senang bila orang-orang kalah dalam berdebat dengan saya. Saya menikmati ketidaktahuan orang-orang atas hal-hal yang saya lebih tahu. Tidak mudah mengakuinya, tapi saya selalu ingin menjadi yang terpintar di sebuah ruangan. Saya benci orang lain lebih tahu, lebih bisa dari saya untuk hal-hal yang saya minati.

    Saya terkadang melempar obrolan, katakanlah dengan topik seperti feminisme, kepada teman saya yang jelas-jelas tidak tahu apa itu feminis, seksis, toxic masculinity, dan sebangsanya. Dari ketidaktahuan itu, saya menikmatinya. Padahal, lebih sering daripada tidak, saya hanya tah “kulit”nya saja.

    Mungkin tumbuh dalam sistem pendidikan di mana nilai tinggi dijadikan standar mutlak kepintaran adalah salah satu alasan. Sejak SD hingga SMK ranking saya tidak jauh-jauh dari 1, 2, 3. Saya cenderung mudah menangkap pelajaran (meski mudah juga melupakannya seketika). Teman-teman saya sampai menjuluki saya “pintar tapi pemalas”, bukan sebab saya benar-benar tidak  mengerahkan tenaga untuk belajar, tapi saya memang sadar saya tidak perlu berusaha sekeras teman-teman saya yang lain untuk memahami pelajaran. Saya entah bagaimana terlihat malas-malasan dan kurang berusaha tetapi mampu meraih nilai tinggi dalam tes.

    Sejak kecil, saya sering menerima pujian bahwa saya anak pintar, dan diam-diam saya menikmatinya, segala pujian yang datang: dari guru, teman sebaya, tetangga, sampai guru mengaji saya.

    Lambat laun, “pintar” menjadi satu dengan identitas saya. "Pintar" menjadi sesuatu yang darinya saya dapatkan kebanggan. Saya tanpa sadar melabeli dan mengadopsi "pintar" sebagai salah satu hal terpenting bagaimana diri saya terlihat di mata saya.

    Saya tumbuh besar dengan label itu. Jadi, saya merasa harus mempertahankannya. Seseorang yang lebih tahu dari saya, terlihat sebagai sebuah ancaman. Dunia orang dewasa berbeda. Mereka tidak lagi mudah memuji. Jadi, begitulah, kebutuhan untuk diakui sebagai pribadi yang pintar dan cerdas mendorong untuk mengingatkan orang-orang bahwa saya ini pintar.

    Saya tidak dapat menahan dorongan untuk tidak berkata bahwa saya melakukan hal ini, saya membetulkan hal itu, saya lho yang menemukan metode lain yang lebih efektif ini, kamu harusnya melakukannya dengan cara seperti ini (ketika orang tersebut sama sekali tidak meminta pendapat saya). Atau dorongan untuk menimbrung obrolan agar terlihat saya lebih tahu. Saya merasa harus menjelaskan segalanya untuk membuktikan kemampuan saya.

    Terkadang, berlindung dibalik pemikiran bahwa saya ingin deep conversation dengan orang lain, di sana ada maksud lain. Bukannya saya tidak benar-benar ingin memiliki deep conversation dengan orang-orang terdekat, saya ingin dan menyukainya, tapi jika saya benar-benar jujur, alasan itu bukanlah satu-satunya. Saya tidak benar-benar berusaha untuk membuat kami sama-sama memperoleh pemahaman yang sama atau memahami dan mengambil nilai dari satu sama lain, tetapi lebih kepada fakta bahwa penekanan bahwa saya tahu hal ini, yang kamu bahkan tidak tahu apa-apa.

    This trait is pretty annoying, right? 

    Perlahan, saya berupaya melepas label "pintar" itu. It's perfectly okay if I am not the smartest in the group. It's perfectly okay if others do better than me. I’am enough. I don’t need to prove my intelligent to anyone. I still slip sometimes, but I believe that acknowledging it is a step towards change. I am still working on it.

    Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menganalogikan memamerkan kecerdasan dengan kekayaan. Kamu merasa tidak nyaman saat seseorang membual dan terus membicarakan kekayaannya. Terkadang, bukannya terkagum, hal itu malah menjengkelkan. Kita justru  malah meragukan perkataannya dan kekayaannya yang sebenarnya. Tetapi jika kekayaan itu diketahui secara tiba-tiba, kamu atau saya tidak pernah menduga jika ia kaya karena sikapnya yang biasa saja, kita justru akan merasa sangat kagum. Self resect kita meroket untuk orang tersebut.

    Dan, hal yang sama bekerja untuk kecerdasan. It stuck on my mind.


    Continue Reading

     

    Poster Extracurricular

    Profil Drama

    Judul : Extracurricular
    Genre : Remaja, Kriminal
    Sutradara : Kim Jin-min
    Penulis Skenario : Jin Han-sae
    Episode : 10
    Periode Penyiaran : 29 April 2020
    Pemain :

    Pemain Extracurricular
    Dari kiri ke kanan, Park Joo-Hyun sebagai Bae Gyuri, Kim Dong-Hee sebagai Oh Jisoo, Jung Da-Bin sebagai Seo Minhee, Nam Yoon-Soo sebagai Kwak Kitae

    Oh Jisoo adalah seorang anak berprestasi, pendiam, dan tak pernah membuat masalah di sekolahnya. Tanpa orang lain tahu, ia menjalankan bisnis prostitusi online sebagai mucikari tunggal untuk menyokong hidupnya. Ia bekerja dengan nama samaran "Paman". Selain menjembatani client dan wanita yang diinginkan, bisnisnya juga menyertakan layanan pengamanan yang dilakukan oleh Pak Lee apabila sesuatu terjadi di luar kendali.

    Suatu hari, Oh Jisoo mendapati ponsel yang biasa ia gunakan untuk menjalankan bisnisnya hilang.  Ponsel itu ditemukan Bae Gyuri, siswi terkenal di kelasnya. Bae Gyuri akhirnya tahu sisi lain Oh Jisoo dan bisnisnya, termasuk rahasia Seo Minhee, teman sekelas mereka yang merupakan pekerja seks bagi bisnis Oh Jisoo.

    Bae Gyuri yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang, justru tertarik masuk ke dalam bisnis gelap Oh Jisoo. Dalam perjalanannya, bisnis Oh Jisoo harus berurusan dengan ketua geng gila dan mulai tercium oleh pihak kepolisian.


    Continue Reading

     

    Love Alarm Poster


    Profil Drama

    Drama: Love Alarm Season 2
    Director: Kim Jin-Woo, Park Yoo-Young
    Writer: Cheon Kye-Young (webcomic), Kim Seo-Hee, Kwon Ji-Young, Cha Yeon-Soo
    Episodes: 6
    Release Date: March 12, 2021

    Continue Reading
    Cover Novel Resign

    Judul: Resign
    Genre : Metropop, Romance
    Penulis: Almira Bastari
    Editor: Claudia Von Nasution
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Blurb :

    Kompetisi sengit terjadi di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Pesertanya adalah para cungpret, alias kacung kampret. Yang mereka incar bukanlah penghargaan pegawai terbaik, jabatan tertinggi, atau bonus terbesar,
    melainkan memenangkan taruhan untuk segera resign!

    Cungpret #1: Alranita
    Pegawai termuda yang tertekan akibat perlakuan semena-mena sang bos.

    Cungpret #2: Carlo
    Pegawai yang baru menikah dan ingin mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi.

    Cungpret #3: Karenina
    Pegawai senior yang selalu dianggap tidak becus tapi terus-menerus dijejali proyek baru.

    Cungpret #4: Andre
    Pegawai senior kesayangan sang bos yang berniat resign demi menikmati kehidupan keluarga yang lebih normal dan seimbang.

    Sang Bos: Tigran
    Pemimpin genius, misterius, dan arogan, tapi dipercaya untuk memimpin timnya sendiri pada usia yang masih cukup muda.

    Resign sebenarnya tidak sulit dilakukan. Namun kalau kamu memiliki bos yang punya radar sangat kuat seperti Tigran, semua usahamu akan terbaca olehnya. Pertanyaannya, siapakah yang akan memenangkan taruhan?
    Continue Reading

    Poster drama Live On
     

    Profil Drama Live On

    Judul Drama : Live On
    Genre : Drama, School-Life
    Jumlah Episode : 8 (November 2020 - Januari 2021)
    Penulis Naskah : Bang Yoo-Jung
    Sutradara : Kim Sang-Woo

    Jadi, sembari menunggu episode lain Penthouses, saya teringat salah satu drama di watch list saya, yaitu Live On. Ceritanya saya sama teman saya bertukar drama, saya rekomendasikan dia Love Alarm dan dia rekomendasikan saya Live On karena masih sama-sama ada school vibes-nya. Akhirnya setelah saya kepoin dan ternyata cuma 8 episode, lalu baca-baca review dan nonton trailernya—iya, saya selalu ribet gitu kalau mau nonton drama—akhirnya saya memutuskan untuk menonton drama ini.

    Live On bercerita soal Baek Ho-Rang, siswi dengan 170.000 pengikut di sosial media (di Korea sana pengikut segini itu termasuk banyak, mungkin setara kayak selebgram dengan rentang followers 3-5 juta kalau di Indo kali, yak) yang terkenal berperangai angkuh dan sombong. Kehidupan Baek Ho-Rang terganggu ketika seseorang mengirim cerita anonim soal rahasianya yang dibacakan di klub penyiaran sekolah. Ia juga terus diancam bahwa rahasianya akan dibongkar.

    Untuk mengetahui dalang dibalik cerita anonim itu, ia bertekad memasuki klub penyiaran. Di sana, ia bertemu Ko Eun-Taek, ketua tim penyiaran yang terkenal tegas dan tepat waktu. Setelah masuk klub tersebut, Baek Ho-Rang mulai mencoba berteman dan membuka diri. Dan bersama Ko Eun-Taek mereka menyembuhkan luka satu sama lain.

    Continue Reading

     

    poster-penthouses

    Profil Drama The Penthouses

    Judul : The Penthouses: War In Life

    Genre : Drama, Misteri

    Penulis Naskah : Kim Sun-Ok

    Sutradara : Joo Dong-Min

    Jumlah Episode : 21

    Pemain :

    Pemeran Penthouses
    Dari kiri ke kanan : Lee Ji-Ah sebagai Shim Su-Ryeon, Kim So-Yeon sebagai Cheon Seo-Jin, Eugene sebagai Oh Yoon-Hee


    pemeran penthouses 2
    Dari kiri ke kanan : Bong Tae-Gyu sebagai Lee Kyu-Jin, Um Ki-Joon sebagai Joo Dan-Tae, Yoon Jong-Hoon sebagai Ha Yoon-Chul


    The Penthouses berfokus pada tiga karakter wanita di Hera Palace. Shim Su-Ryeon, seorang wanita kelas atas yang elegan dan berkelas yang berusaha membalas dendam atas kematian anaknya serta perselingkuhan suaminya. Cheon Seo-Jin, penyanyi klasik dan pengajar bagi sekolah seni Cheong-ah, yang berambisi untuk mendapatkan segala yang diinginkannya. Dan Oh Yoon-Hee, wanita kelas bawah, pekerja real estate yang berusaha melakukan segalanya untuk anaknya, termasuk masuk ke Hera Palace.

     

    Shim Su-Ryeon selama bertahun-tahun, ternyata dibohongi oleh Joo Dan Tae suaminya, bahwa anaknya lahir dengan kurang sehat dan harus terus menjalani perawatan di rumah sakit. Ternyata anak aslinya masih hidup dan tinggal dengan kekurangan, hingga harus menipu keluarga Joo Dan Tae bahwa dirinya adalah anak kuliah yang sedang mencari penghasilan tambahan sebagai guru les. Ia adalah Min Seol A.

     

    Min Seol A, harus menanggung kekejaman penghuni Hera Palace sebab telah menipu mereka dan mengambil video perselingkuhan Cheon Seo-Jin dan Joo Dan-taeIa dikasari oleh para orang dewasanya, dan dibully anak-anak mereka.

     

    Ketika Su-Ryeon akhirnya mengetahui kebenaran tentang siapa Min Seol Ah, semua sudah terlambat, Min Seol Ah mati didorong dari lantai 47 Hera Palace. Ia mati secara tidak adil dan kematiannya dipalsukan seolah ia bunuh diri di rumahnya.

     

    Su-Ryeon yang tidak rela anaknya mati begitu saja, mencari tahu siapa yang membunuh anaknya dan memastikan akan membalas dendam pada siapa saja yang telah membuat Min Seol Ah sengsara.

     

    Continue Reading

     Profil Drama Sweet Home

    Judul drama: Sweet Home
    Genre : Post Apokaliptik, Drama, Fantasi
    Penulis Naskah : Hong So-Ri, Kim Hyung-Min, Park So-Jung
    Sutradara : Lee Eung-Bok
    Jumlah Episode : 10 Episode

    Poster Sweet Home


    Pemeran :

    pemeran sweet home
    Atas, dari kiri ke kanan, Song Kang as Cha Hyun-Su, Lee Jin-Wook as Pyeon Sang-Wook, Lee Si-Young as  Seo Yi-Kyung, Lee Do-Hyun as Lee Eun-Hyeok
    Bawah, Kim Nam-Hee as Jung Jae-Hyeon, Go Min-Si as Lee Eun-Yu, Park Gyu-young as Yoon Ji-Su, Ko Yoon-Jung as park Yu-Ri


    Sweet Home bercerita soal Ca Hyun Su, Seorang remaja yang pendiam dan tidak punya harapan hidup (dalam bahasa emo kekinian : nolife/nolep), yang harus pindah ke sebuah apartemen kecil setelah seluruh keluarganya tewas dalam kecelakaan mobil. Pada hari-hari awal kepindahannya, keanehan mulai terjadi.

     

    Orang-orang di apartemen kecil itu mulai berubah menjadi monster. Hal itu ditandai dengan mimisan dengan keluarnya begitu banyak darah dari hidung, tidak sadarkan diri, dan mulai mendengar suara-suara aneh yang menyuruh melakukan 'sesuatu'.

     

    Belum lagi, Cha Hyun Su mengalai gejala yang sama. Cha Hyun Su termasuk dalam orang yang berpotensi berubah menjadi monster.

     

    Penghuni apartemen terjebak di dalam gedung yang mulai dipenuhi monster tanpa bisa keluar hidup-hidup dan ancaman ketidaktahuan soal siapa di antara mereka yang akan berubah menjadi monster.

     

    Dalam keputusasaan itu, munculah orang-orang pemberani yang memimpin dengan berbagai cara untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah Lee Eun Hyeok, yang memimpin kelompok tersisa dari Green Home, Seo Yi Kyung seorang mantan petugas pemadam kebakaran, dan seorang pria misterius bernama Pyeon Sang Wook.


    Drama ini diangkat dari webtoon, karya Kim Kan-Bi dan Hwang Young-Chan, tapi kali ini, kebetulan, saya juga cukup mengikuti webtoon-nya. Meskipun saya belum baca sampai akhir—karena setelah saya kunjungi terakhir kali, webtoon ini sekarang tidak bisa dibaca secara gratis, alias harus beli koin dan jiwa gratisan saya tidak terima, hehe—saya akan mengulas sedikit soal perbedaan antara drama dan Webtoonnya. Hooray!

     

    Sweet Home Drama VS Webtoon

     

    1. Perbedaan Terbesar : Penambahan Karakter Seo Yi Kyung dan Perubahan Beberapa Karakter

    Seo Yi Kyung adalah seorang mantan petugas pemadam kebakaran.Dia asertif, berani, dan (uhuk) jago gelud. Yi Kyung pada Sweet Home versi drama adalah salah satu jajaran karakter utama, tapi siapa sangka, sebenarnya Yi Kyung tidak ada dalam Sweet Home versi Webtoon.

     

    Ketika saya pertama kali nonton Sweet Home, reaksi pertama saya waktu lihat kehadiran Yi Kyung adalah: ini siapa? Saya kok tidak ingat dia ini jadi apa di webtoon-nya? Sebab saya sudah lama pension (lho) baca webtoon, saya kira saya lupa para karakternya. Padahal saya ingat karakter seperti Yuri, karakter tidak penting seperti Paman-pelit-yang-punya-toko-kelontong, sampai istrinya-si-paman-toko-kelontong. Nyatanya, karakter Yi Kyung ini memang tidak ada.

     

    Untungnya, penambahan karakter Yi Kyung ini memang diperlukan (pada versi dramanya, ya) dan aktris yang memerankannya seolah terlahir untuk peran itu, hingga penampilannya menjadi salah satu iconic scene di Sweet Home. If you know what I mean. Roti sobek.

    Seo Yi Kyung
     

    Karena adanya penambahan karakter ini, tentunya, screentime untuk karakter lain berkurang. Kalau Kamu mengikuti webtoon-nya, pasti kamu tahu siapa main lead-nya, yak, Yoon Ji-Su. Yoon Ji-Su, pada drama, sayangnya hanya seperti karakter pendukung. But, who knows? Mungkin Yoon Ji-Su akan lebih dari sekadar pemeran pendukung di season duanya (ya kalua ada, sih) Ia juga tidak kebagian love line dengan main lead cowoknya, Cha Hyun-Su, seperti pada webtoon.

     

    Selain penambahan karakter, Sweet Home versi drama juga melakukan perubahan major untuk beberapa kepribadian karakter. Seperti misalnya, Pyeon Sang-Wook, yang awa-awal saya pikir kemunculannya di drama, dia ini malah mau dijadikan villain. Sang-Wook di webtoon memang digambarkan jago gelud, mainnya pake otot, tapi bukan pribadi yang kasar dan menutup diri. Ia justru salah satu yang memimpin dan melindungi penghuni lain untuk tetap bertahan hidup.

     

    Karakter lain juga mengalami perubahan, seperti Lee Eun-Yu, yang justru memiliki lebih banyak screentime dibanding versi webtoon. Ia digambarkan kasar, punya back story kelam, dan tidak menyukai kakaknya. Beda dari webtoon.


    2. Love Line Sweet Home

    Webtoon Sweet Home
    Sweet Home Webtoon; Cha Hyun-Su dan Yoon Ji-Su

    Sweet home sendiri, baik versi drama dan webtoon memang minim adegan romantis, romansa yang ada hanya sebagai bumbu (yang dituang secukupnya saja, haha). Tetapi berdasarkan apa yang saya ingat, romansa yang terjadi adalah antara Hyun-Su dan Ji-Soo. Ji-Su adalah main female lead di webtoon, ingat? Tetapi di drama, romansa tidak terjadi antara mereka. Ji-Su justru dipasangkan dengan Jae-Heon, dan Ca Hyun-Su dengan Eun-Yu. Meski, dalam webtoon, Eun-Yu juga mengagumi Hyun-Su. (Dan psstt, di webtoon, Eun-Yu jauh lebih muda dari Hyun-Su, bukannya seumuran).


    Dan ini nggak penting, sih, tapi saat saya lihat Song Kang (Cha Hyun-Su) dan Go Min-Si (Lee Eun-Yu) dipasangkan, saya ngerasa agak aneh aja karena duluan lihat mereka berdua di Love Alarm, Song Kang malah sukanya sama sepupu Go Min-Si, dan Min-Si adalah antagonis buat hubungan mereka, HAHAH...

    Hyun-Su dan Eun-Yu

     3. Setiap Monster (Seharusnya) Memiliki Keinginan Terdalam

     

    Dalam versi webtoon-nya, setiap manusia yang bertransformasi menjadi monster punya keinginan terdalam, yang tak dapat mereka wujudkan atau dapatkan di dunia nyata. Keinginan terdalam inilah yang menjadi penentu, apakah mereka akan kalah dengan bisikan untuk terwujudnya keinginan itu dan menjadi monster, atau mereka bertahan dan melawan gejala monsterisasi.

     

    Cukup disayangkan, menurut saya, Sweet Home versi drama tidak mengangkat ini. Padahal, beberapa monster memiliki back story yang sangat menyentuh. Seperti monster ibu yang kehilangan balitanya, bahkan ketika menjadi monster, wujudnya adalah bayi. Sebab keinginan terdalamnya adalah dapat menyelamatkan anaknya yang tertabrak karena kelalaiannya. Atau keinginan terdalam Han Du sik, hingga Cha Hyun Su, serta alasan mengapa Hyun-Su bisa melawan gejala monsterisasi dan menjadi special-infectee.

     

    Pada webtoon, keinginan terdalam Cha Hyun Su-lah juga alasan mengapa komiknya berjudul Sweet Home. Well, tapi saya menyadari, karena ini adaptasi, jelas hal-hal akan berbeda dari versi originalnya. Dan juga, mungkin akan terlalu makan durasi apabila keinginan terdalam para monster ini disorot. But then again, it would be great if they added it.

     

    4. Kemungkinan Perubahan Genre

    Karena saya tidak baca webtoon Sweet Home sampai akhir, saya tidak tahu pasti bagaimana ending-nya. Tetapi berdasarkan yang sudah saya baca, penjelasan soal mengapa manusia bisa berubah menjadi monster diungkap dalam balutan fantasi. Sedangkan pada versi drama, penjelasan itu barangkali akan dikemas dengan teori yang lebih saintifik. Ini memang prediksi. Karena pada dramanya, manusia setengah monster seperti Hyun-Su ditangkap pemerintah untuk dijadikan bahan riset di laboratorium. Ini tidak ada dalam versi webtoon.

     

    Namun, terlepas dari banyak perubahan major dari versi webtoon, yang saya suka dari dramanya adah: vibes-nya tetap sama. Yang saya rasakan saat menonton adegan pada dramanya, apalagi adegan yang disadur langsung dari komiknya, nuansanya sama seperti saat saya membaca webtoonnya.

     

    Ada salah satu adegan yang paling saya suka :

     

    Kemunculan Pertama Monster

    Kemunculan Pertama Monster 2


    Adegan tersebut sama persis dengan versi webtoon, ketika saya menontonnya, saya merinding karena mengingat nuansa inilah yang saya dapatkan ketika saya membaca Sweet Home.

     

    Dan juga adegan favorit saya :


    Transformasi Cha Hyun-Su

    Transformasi Cha Hyun-Su 2
    Transformasi Cha Hyun-Su

    Kelebihan dan Kekurangan Sweet Home

    Warning : mengandung sedikit spoiler, lewati jika tidak ingin bocoran cerita sebelum menonton!

     

    Karena tidak afdol rasanya untuk tidak menyinggung kekurangan drama ini, jadi saya bakal bahas minusnya drama ini dulu. Sebenernya, bagi saya, kekurangan pada drama ini tidak fatal, malah lebih seperti, ini bisa jadi lebih baik, kalau .... (insert perubahan adegan, alternative plot, dll)  Iya, semacam itu.

     

    Karena saya orangnya juga enggak paham rempong soal unsur teknis semacam pengambilan gambar, lighting, dkk hingga CGI, jadi saya oke-oke saja. Meski beberapa penonton lain merasa untuk drama yang diklaim menghabiskan budget terbesar, CGI-nya malu-maluin, nggak mulus, jelek, yada-yada. Saya merasa oke-oke sadja, tuh. Maksudnya, iya, saya juga merasa di beberapa bagian, CGI-nya bisa lebih baik, atau kurang mulus (misalnya scene dengan pertarungan sama monster raksasa berotot di luar gedung), tapi saya tidak bakal bilang itu jelek, malu-maluin, atau kritik keras sejenis. Karena bagi saya, selama masih bisa dinikmati, dan tidak kayak CGI-nya channel Ikan Terbang, atau ular-ular jadi-jadian, it's okay, bukan masalah besar.

     

    Saya malah lebih menyoroti plotnya, yang untuk beberapa bagian, agak dipaksakan entah untuk efek dramatisasi dan sebagainya. Contoh yang paliiiiiiiiingg (iya, i-nya harus dibanyakin) menyebalkan: adegan kematian Jae-Heon. Saya sudah peringatkan bakal ada spoiler, oke?

     

    Saat sudah beberapa episode dan Jae-Heon belum mati-mati juga (ya maaf, soalnya di webtoon dia termasuk karakter awal yang mati duluan), saya bertanya-tanya: kapan lu matinya?

     

    Setelah akhirnya disuguhkan apa yang saya tunggu, saya bergumam : ooh, they wanna make him die a hiro. Dalam adegan kematian tersebut, terlihat sekali sutradara mau scene kematian Jae-Heon menjadi sagat dramatis dan membuat haru penonton. Alias, mereka maunya kematiannya dia jadi salah satu iconic scene Sweet Home.

     

    Saya akui, pengambilan adegannya keren, dan memang sangat dramatis. Dia mati sehabis confess kalau dia suka sama Ji-Su, kurang dramatis apalagi coba? Belum lagi, tidak seperti karakter lain yang matinya cepat (pernyataan apa ini?), adegan kematian Jae-Heon itu, duh, gimana jelasinnya...

     

    Satu tangannya terpotong sama lawan, tapi dia masih bisa lanjut gelud, sodara-sudara, dan dia ambil itu pedang dari tangannya yang buntung di lantai, bertarung, lalu giring monsternya ke lift. Lalu bertarung lagi di lift dengan efek darah terciprat di mana-mana dan lampu yang mati-hidup-mati-hidup sambal diiringin lagu Warriors-nya Imagin Dragon.

     

    Masalahnya adalah : adegan ini agak tidak make sense, sebab yang dilawan Jae-Heon itu termasuk monster yang tidak sebegitunya berbahaya. Lawannya adalah satpam apartemen mereka dahulunya. Dan si monster ini tidak punya banyak perbedaan dari segi fisik, kecuali ia dilalati dan bagian tubuhnya membusuk, senjatanya hanya mesin pemotong rumput. Logikanya, Jae-Heon telah melawan monster yang jauh lebih berbahaya dari dia, dan dia baik-baik saja. Harusnya kali ini, dia juga bisa mengatasinya.

    Edit : Jadi waktu saya rewatch beberapa adegan Sweet Home, saya nemu informasi di kolom komentar youtube, yang setelah saya cari-cari detailnya kira-kira begini :


    Kemampuan monster kim
    kemampuan monster yang dilawan Jae-Heon

    Pada intinya, monster yang dilawan Jae-Heon itu salah satu monster yang kuat. Si monster ini bisa menyerap berat korbannya, yang membuat dia memiliki masa tubuh sangat berat. Setelah saya ingat-ingat, sepertinya detail ini memang ada di versi webtoon-nya (juga drama?) ketika si monster turun dan orang-orang kebingungan mengira lift-nya penuh sesak dengan orang.Masalahnya, tetap saja penonton yang tidak membaca versi webtoon-nya tidak bakal tahu detail ini, sebab di drama, detail ini tidak begitu dijelaskan (?)

     

    Kedua, saat si monster satpam turun dari lift ke lantai bawah, Jae-Heon kan ada di ruang operasinya Ji-Su, begitu juga karakter lain yang juga masih satu area di lantai bawah, tapi kenapa hanya Jae-Heon yang paling duluan datang hadapin monster itu? Kenapa karakter lain datang dengan sangat terlambat?

     

    Dan ini yang paling bikin, duh, apaan, nih bagi saya : Sewaktu karakter lain sudah datang, mereka cuma lihat aja si Jae-Heon ngelawan monsternya sampai tangannya putus, lalu tarung lagi, kenapa tidak ada yang bantu, woy? Malah cuma lihatin saja.

     

    Terus ada lagi, nih, waktu sudah di lift, Jae-Heon minta dilemparkan api biar mereka terbakar bersama, dan monsternya nggak hidup lagi, mereka yang jadi penonton tidak tega dan bergeming. Lalu si Lee-Eun-Hyeok sebagai pemimpin mengambil tindakan dengan akhirnya melemparkan api.

     

    Begitulah kisah kematian Jae-Heon yang tidak masuk akal, sodara-sudara. Niatnya mau bikin jadi dramatis, tapi malah serasa dipaksakan dan dapat kernyitan kening. Oke, atau cuma saya aja yang begitu?

     

    Protes saya selanjutnya, ini mirip-mirip sama logika bolong film-film, semacam film zombie hollywood : kalau zombie-nya nyerang pemeran tidak begitu penting, gercep banget, dikerubutin, dan mati, deh. Kalau zombie-nya nyerang karakter utama, zombie nya merhatiin dulu lah, yang nyerang paling hanya satu-dua, berurutan dan tidak langsing menggigit, akhirnya dapat segera ditumpas.

     

    Ini juga terjadi pada Sweet Home. Sewaktu karakter kurang penting mau menyelamatkan anak dari salah satu penghuni, baru beberapa langkah ia keluar dari gedung, dia langsung mati diserang monster yang ada di situ, begitupula si gadis yang hendak diselamatkan. Tetapi waktu Sang-Wook yang pergi keluar dan membawa mayat mereka berdua ke dalam, tidak ada, tuh, yang menyerangnya. Lalu saat Yi-Kyung berkendara keluar gedung, ia juga baik-baik saja, kembali juga baik-baik saja.

     

    Saya suka banget semua karakter dan akting masing-masing karakter di sini. Seolah, semua karakter terlahir untuk memainkan peran di drama tersebut. Baik dari karakter pendukung hingga jajaran karakter utamanya. Dan barangkali, karakter adalah kekuatan utama Sweet Home.

     

    Untuk drama 10 episode yang masing-masing episodenya tidak mencapai satu jam, Sweet Home menyajikan back story dan character development yang solid, khususnya, bagi beberapa karakter.

     

    Memang tidak mengherankan, karena saya rasa, Sweet Home season satu lebih banyak fokus pada karakter. Katakanlah, satu episodenya, 80% porsinya untuk karakter, dan 20% sisanya barulah aksi para tokoh melawan monster. Sejujurnya, di beberapa episode, banyaknya filler untuk pengembangan karakter tokoh ini membuat dramanya agak menjemukan. Saya seperti menunggu-nunggu, duh, kapan, sih, adegan aksinya? Masih lama, nih?

     

    Tetapi, ya, tidak sampai membuat saya berhenti nonton, yang artinya, masih bisa dimaklumi. Hanya saja, saya agak berharap, porsinya menjadi setara di season dua (sekali lagi, jika memang ada season dua-nya), atau minimal 60% dan 40% lah.

     

    Itulah kira-kira, kesan saya menonton Sweet Home. Di luar segala kekurangannya, Sweet Home termasuk drama yang akan saya rekomendasikan untuk ditonton. Dan apabila ada season duanya, yang saya harap akan ada, karena Sweet Home memang menyisakan banyak sekali misteri yang belum terungkap, saya bakal nonton.

    Bonus :


    Sweet Home Eyeball Monster
    Eyeball Monster


    Lee Eun-Hyeok
    What a great lie you told us


     Jadi, rate saya adalah 8.75 dari 10 untuk drama ini!

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ▼  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
        • [Review Drakor] Sweet Home (2020)
      • ►  Maret (3)
        • [Review Drakor] The Penthouses: War In Life (2020)
        • [Review Drakor] Live On (2020)
        • [Review Novel] Resign! (2018)
      • ►  April (2)
        • [Review Drakor] Love Alarm 2 (2021)
        • [Review Drakor] Extracurricular (2020)
      • ►  Juni (1)
        • Show Off
      • ►  Juli (2)
        • Time Teaches You Some Things to Let Go
        • [Review Drakor] Doom At Your Service (2021)
      • ►  Oktober (2)
        • [Review Novel] Cantik Itu Luka (2002)
        • [Review Novel] Love, Curse & Hocus Pocus (2008)
      • ▼  Desember (1)
        • Goodbye, 2021
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top